Perang ala Bambu Runcing Melawan Corona
Ikhtiar lain ialah dengan membeli lima juta butir obat avigan dan chloroquine yang diharapkan dapat digunakan untuk mengobati para pasien Covid-19. Kedua jenis obat itu sebenarnya bukan spesifik untuk Covid-19.
Avigan ialah obat antivirus influenza, sedangkan chloroquine adalah obat antimalaria. Namun, keduanya diharapkan membantu memerangi virus SARS-CoV-2 di tubuh para pasien, sebagaimana dilaporkan manjur di sejumlah negara di Amerika, Eropa, dan Asia—termasuk China.
Pemerintah memesan 150 ribu unit rapid test kit atau alat pemeriksaan secara cepat untuk memeriksa orang-orang yang dicurigai tertular Corona setelah berkontak dengan pasien Covid-19. Barangnya datang secara bertahap: 2.000 unit pada Sabtu lalu dan sisanya diklaim datang beberapa hari kemudian.
Artileri melawan Corona itu datang cukup terlambat—meski sesungguhnya tak ada kata terlambat sebelum situasinya kian memburuk. Sudah 579 orang terinfeksi dan 49 di antaranya meninggal dunia, sementara yang sembuh 30 orang (data 23 Maret 2020).
Wilayah persebaran virus itu sudah meluas hingga 20 provinsi (data 22 Maret 2020), tak lama setelah disadari bahwa kejangkitan jauh lebih cepat daripada usaha untuk menghentikannya.
Tetapi, selain itu, masalah lain mengadang. Jumlah tenaga medis juga amat terbatas. Mereka yang bertugas atau siaga mulai dirasakan tak sebanding dengan jumlah pasien—berstatus positif terinfeksi maupun Pasien dalam Pengawasan—yang datang.
Salah satu rumah sakit rujukan, Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso di Jakarta, mengaku sudah mulai kewalahan. Sang direktur, Mohammad Syahril, berterus terang menyampaikan kepada pers bahwa mereka membutuhkan banyak relawan, baik dokter umum, dokter spesialis, perawat, dan analis.
Kalau hanya mengandalkan para petugas medis yang ada sekarang, apalagi jumlah pasien terus bertambah dari hari ke hari, kata Syahril, tentu saja tidak cukup. Mereka yang bertugas reguler pun butuh waktu untuk beristirahat agar kondisi kesehatan mereka tetap terjaga selagi negara masih siaga penuh. Belum lagi kalau dikurangi dengan jumlah dokter yang meninggal dunia atau perawat yang mesti diistirahatkan/diisolasi karena sudah tertular.
Insentif membantukah?
Yang dikeluhkan Syahril barulah sebatas masalah yang dihadapi RSPI Sulianti Saroso, belum rumah sakit-rumah sakit lain di Jakarta dan daerah-daerah lain. Belum juga dihitung dengan kebutuhan tenaga medis di Rumah Sakit Darurat Covid-19 yang memanfaatkan Wisma Atlet dan berkapasitas 24.000 pasien.