Maklumat Terlambat Pakai Masker Tangkal Corona
VIVA – Masyarakat masih mengingat betul peristiwa ketika Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, mengingatkan masyarakat bahwa penggunaan masker hanya untuk orang yang sakit—flu, batuk, atau terinfeksi virus corona. Orang yang sehat walafiat tak usah pakai masker; memaksa menggunakannya malahan akan mengurangi asupan oksigen dalam tubuh.
Dua pekan setelah itu, tanpa penjelasan apa pun, Terawan bahkan mengenakan masker dan sarung tangan kala mendampingi Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, di Bandara Halim Perdanakusuma. Pejabat-pejabat lain, termasuk Prabowo, juga ikut mengenakannya, sama seperti Terawan.
Pada 6 April 2020, lebih dari sebulan setelah pernyataan sang menteri, pemerintah malah menegaskan: orang yang sehat juga wajib mengenakan masker, terutama kalau sedang beraktivitas di luar rumah. Masker yang disarankan ialah masker berbahan kain. Sebab, masker bedah dan masker jenis N-95 diprioritaskan untuk tenaga medis, bukan untuk umum.
Masalahnya, maklumat itu disampaikan saat masker jenis apa pun sudah langka di pasaran. Stok barang itu sudah ludes sejak pemerintah mengumumkan kasus pertama infeksi Covid-19 di Indonesia. Kalau sekarang masih ada, harganya pasti ugal-ugalan—bisa mencapai Rp500 ribu sampai Rp600 ribu per boks.
Klaim 50 juta masker
Taklimat wajib menggunakan masker kalau di luar rumah itu awalnya disampaikan juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto. Namun, kemudian dipertegas lagi oleh Presiden Joko Widodo dalam rapat dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Jakarta.
![]()
Presiden beralasan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperbarui protokol kesehatannya agar semua orang mengenakan masker kalau berada di tempat-tempat umum. Memang, katanya, WHO juga di masa-masa awal pandemi Corona di dunia menyerukan penggunaan masker hanya untuk orang yang sakit, petugas medis, dan mereka yang merawat orang sakit. “Tapi sekarang semua yang keluar harus pakai masker”.
Di sisi lain, hampir sembilan puluh persen penularan Covid-19, menurut laporan Gugus Tugas Penanganan Covid-19, melalui droplet atau cipratan air liur batuk atau bersin dari orang yang terinfeksi. Maka, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, menegaskan, “Pertahanan paling depan adalah menggunakan masker dan cuci tangan”.