Siap-siap Gaduh Gara-gara Reshuffle Kabinet
- ANTARA FOTO/Wahyu Putro
Meski menegur dengan keras dan terang-terangan mengaku jengkel, Jokowi tidak memberikan isyarat kapan Kepala Negara akan membongkar-pasang formasi kabinetnya. Jokowi hanya mempertegas tak akan ragu untuk membuat kebijakan-kebijakan extraordinary alias luar biasa, kapan pun dan di mana pun. Dia bertekad harus bekerja lebih keras dan akselerasi lebih kencang demi berpacu dengan situasi tak normal akibat pandemi Covid-19.
Sejumlah pengamat politik menganalisis pernyataan Jokowi itu sudah cukup jelas, dan sejauh ini nyaris tak pernah Kepala Negara mengisyaratkan merombak kabinet seterang-terangan itu. Bahkan, pengamat politik Yunarto Wijaya memprediksi perombakan kabinet bisa saja terjadi sebelum agenda pidato kenegaraan Jokowi pada 16 Agustus 2020. Dalam momen setiap 16 Agustus biasanya Jokowi menyampaikan pidato tentang APBN yang bertepatan dengan sidang tahunan MPR, DPR, dan DPD.
Prediksi Yunarto tidak asal-asalan, bukan pula hanya karena Jokowi menegur keras menteri-menterinya di pertengahan Juni sebagai prakondisi sebelum benar-benar dieksekusi satu-dua bulan berikutnya. Faktanya, berdasarkan catatan VIVAnews, di periode pertamanya sebagai presiden, Jokowi membongkar-pasang kabinetnya pada bulan Juli atau Agustus.
Pada 12 Agustus 2015, Jokowi merombak lima kementerian utama dan strategis seperti Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, dan Kementerian/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
Belum genap setahun usia kabinet baru, pada 27 Juli 2016, Jokowi merombak lagi formasi para pembantunya. Kali ini lebih besar-besaran dan yang tergusur lebih banyak, meliputi 13 kementerian/lembaga, yakni Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, BKPM, Kementerian Keuangan, Kementerian Perhubungan, Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan lain-lain.
Potensi Gaduh
Sedikit atau banyak yang di-reshuffle kelak, kalau benar terjadi, Jokowi diyakini akan sangat berhati-hati agar tidak malah jadi berantakan dan kacau-balau. Pakar komunikasi politik Effendi Gazali menengarai prosesnya bakal tidak mudah, terutama kalau berurusan dengan menteri-menteri dari kalangan partai politik.
Partai Gerindra, Effendi mencontohkan, punya dua wakil di kabinet, yakni Prabowo Subianto dan Edhy Prabowo. Partai pimpinan Prabowo Subianto itu merupakan rival utama dan bebuyutan Jokowi sejak 2014 namun masuk ke pemerintahan pada 2019 sehingga daya tawarnya tidak kecil. Nyaris mustahil, menurutnya, Jokowi mencopot satu atau dua menteri dari Gerindra.