Awas Merapi!

Merapi Status Siaga
Merapi Status Siaga
Sumber :
  • Antara/Wahyu Putro

VIVAnews – Senin pagi, 25 Oktober 2010, sekitar pukul 06.00 WIB, status Gunung Merapi ditingkatkan dari ‘siaga’ menjadi ‘awas’. Ini adalah level tertinggi bagi gunung berapi yang akan segera memuntahkan lava. Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu, menerima kabar peningkatan status itu melalui surat pemberitahuan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta.

"Pemerintah Kabupaten Sleman meminta masyarakat jangan panik. Mohon masyarakat siap dan bersedia dievakuasi. Pemerintah Kabupaten Sleman mengajak masyarakat berdoa bersama agar aktivitas Merapi membawa barokah dan mohon meningkatkan kewaspadaan," kata Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu.

Kepala BPPTK Yogyakarta Subandrio membenarkan hal itu. "Ya benar, status Merapi menjadi ‘awas’."   

Hingga saat ini belum terlihat kubah baru dan titik api diam di Merapi. Tapi justru karena itu, banyak yang mengkhawatirkan letusan Merapi kali ini bakal lebih dahsyat dari sebelumnya.

"Karena tidak muncul kubah baru dan titik api diam, maka letusan atau erupsi merapi tahun 2010 ini akan jauh lebih besar dari erupsi tahun 2006," kata Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam, di kantor BPPTK Yogyakarta.

Menurut pengamatan Surono, Merapi saat ini sedang mengalami penggelembungan atau deformasi di sisi selatan. Kubah lama yang sekarang ini telah berusia lebih dari 100 tahun. Karena itu, semakin renta usianya, maka Merapi pun menjadi semakin rentan.

Menurut Surono, tanda-tanda mengkhawatirkan itu terekam dari alat Electric Distance Measurement (EDM) dengan reflektor yang dipasang di sekitar puncak Merapi. Deformasi atau penggemukan gunung Merapi pada tanggal 21 Oktober lalu rata-rata hanya 10,5 cm. Namun, tiga hari kemudian, penggemukan telah mencapai 52 cm.

Guguran material kubah lama juga mengalami peningkatan. Pada tanggal 21 Oktober, frekuensinya kurang dari 100 kali. Namun, pada tanggal 23-24 Oktober, meningkat menjadi 183 dan 194 guguran. "Deformasi dan guguran material dari kubah lama yang semakin meningkat ini menunjukkan lava sudah berada dekat di puncak gunung," kata Surono.
 
Sementara itu, alat seismograf milik BPPTK juga merekam peningkatan frekuensi gempa. Pada 22 Oktober terjadi gempa bumi vulkanik sebanyak 52 kali, gempa multifase 514 kali, dan tak ada sama sekali gempa frekuensi rendah. Keesokan harinya, terjadi 80 kali gempa vulkanik, 525 kali gempa multifase dan gempa frekwensi rendah satu kali. Sedangkan pada 24 Oktober terjadi 80 gempa vulkanik, 588 gempa multifase dan tiga kali gempa frekuensi rendah.

Merapi pernah meletus teramat dahsyat pada tahun 1930-1931. Ketika itu gunung berapi ini memuntahkan isi perutnya dan menebarkan awan panas yang populer disebut 'wedus gembel'.

Potensi letusan dahsyat Merapi menjadi perhatian pemerintah pusat. Wakil Presiden Boediono akan meninjau lokasi Gunung Merapi, untuk memeriksa kesiapan aparat mengantisipasinya dan proses evakuasi warga.

"Besok (Selasa, 26 Oktober 2010), Wapres ke sana untuk lebih memastikan segala persiapan, termasuk anggaran untuk sanitasi, dll.," kata Menteri Koordinator Kesra Agung Laksono di Landasan Udara Halim Perdanakusumah, Jakarta, sesaat sebelum melepas rombongan Presiden SBY terbang ke Vietnam dan China.

Sebelum Boediono datang, Menteri Agung Laksono dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional bersama akan terlebih dahulu terbang ke Yogyakarta. "Senin sore ini, kami ke sana untuk melihat secara langsung persiapan. Harus ada ada persiapan pengungsian dan tanggap darurat," kata Agung.  

Mbah Maridjan

Di tengah segala kesiagaan itu, sang juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, ternyata belum meninggalkan rumahnya di Dusun Kinahrejo, di lereng gunung berapi itu. Menurut seorang kerabat dekatnya, kakek bintang iklan minuman berenergi itu Minggu malam kemarin malah baru pulang ke rumahnya, setelah melayat salah satu besannya di Bandung. Dan dia kukuh tak mau ikut mengungsi.

"Mbah Maridjan itu penunggu Gunung Merapi, sehingga Pemerintah Kabupaten Sleman dan Provinsi Yogyakarta tidak punya wewenang memerintahkan Beliau untuk mengungsi," kata Agus di Yogyakarta.

Menurut Agus, yang berhak memerintahkan si Mbah mengungsi hanyalah pihak Keraton Yogyakarta, khususnya Sri Sultan Hamengku Buwono X. Selama perintah dari Raja Yogya belum turun, Mbah Maridjan pun akan bertahan di Merapi.

Mbah Maridjan yang bernama asli Mas Penewu Suraksohargo, menjadi juru kunci Merapi sejak tahun 1982. Saat Merapi meletup 2006 lalu, si Mbah jadi buah bibir karena menolak mengungsi meski dibujuk langsung oleh Sri Sultan. Sikap keras kepala, keberanian, dan kesetiaannya menjaga Merapi, menuai kecaman sekaligus mendatangkan pujian. (kd)