Pertamax Tembus Rp8000, Premium Diburu
- ANTARA/Arief Priyono
Sebaliknya, penjualan Pertamax berangsur-angsur menurun. Jika sebelumnya pom bensin ini bisa menjual 10 ton per hari, kemarin hingga pukul 3 sore, SPBU ini baru bisa menjual 4 ton Pertamax.
Beberapa konsumen yang ditemui VIVAnews.com juga mengaku kaget dengan harga Pertamax yang terus melambung. "Aduh saya kaget banget, harga Pertamax naik lagi," kata Yusuf yang ditemui di pom bensin di MT Haryono itu, sore kemarin. Pembeli lain bernama Agus mengaku tengah berpikir untuk beralih ke Premium. "Saya akan lihat dompet dulu, kalau lagi ada pakai Pertamax, kalau nggak Premium."
Pembatasan Premium Jalan terus
Kendati harga Pertamax terus melambung, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, memastikan bahwa pembatasan Premium akan tetap berlaku tanggal 1 April nanti. Meski sebelum pembatasan itu diberlakukan, pemerintah akan membahasnya dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Kata Hatta, "Ini sesuai dengan permintaan DPR."
Pembatasan itu, lanjut Hatta, semata-mata demi rasa keadilan dalam masyarakat. Pemerintah berjanji akan melindungi masyarakat yang berhak. Di tengah anggaran yang terbatas, pemasaran minyak bersubsidi seperti Premium harus tepat sasaran.
Di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia yang terus berlanjut, "Kita masih perlu banyak anggaran untuk perlindungan sosial bagi masyarakat yang rentan oleh pergerakan harga itu," kata Hatta.
Harga minyak mentah dunia memang terus melonjak. Konflik politik yang terus menyala di Mesir turut melecut harga minyak dunia. Jalur angkutan minyak yang melewati Terusan Zues, yang menghubungkan Laut merah dan Laut Tengah, terganggu beberapa hari belakangan. Itu sebabnya sejumlah pengamat menilai bahwa harga Pertamax bukan tidak mungkin akan terus melonjak.
Pengamat energi Pri Agung Rakhmanto, menghitung bahwa harga Pertamax yang berlaku saat ini, yakni sekitar Rp8.050 di Jakarta dan sekitarnya, masih berpatokan pada harga minyak mentah dunia yang berkisar pada US$90 per barel. Ini harga rata-rata pada 15-31 Januari.
Bila rata-rata dalam 15 hari ke depan harga minyak mentah sebesar US$100, harga Pertamax akan melonjak mendekati Rp9.000 per liter.
"Padahal kalau konflik Mesir tak kunjung berakhir, sangat mudah harga minyak tembus US$110," kata Pri Agung kepada VIVAnews.com.
Selain berdampak pada kenaikan harga Pertamax, lanjutnya, kenaikan harga minyak dunia juga akan semakin membebani pemerintah. Bila harga minyak menyentuh US$100 per barel, subsidi BBM akan membengkak sebesar Rp66 triliun. Meski, kata dia, lonjakan harga minyak dunia juga akan berdampak pada kenaikan pendapatan pemerintah sebesar Rp52 triliun.
Itu berarti pemerintah masih defisit Rp14 triliun. Tahun ini, pemerintah menganggarkan subsidi energi sekitar Rp88 triliun. Tapi itu dengan asumsi harga minyak mentah dunia cuma US$80 per barel.