Obituari

Warisan Wartawan Tiga Zaman

Rosihan Anwar
Sumber :
  • Antara/ Fanny Octavianus

Memang, Amir Daud lah yang menganjurkan  saya masuk ke Pedoman. “Anda sudah cukup lama di pers asing, sekarang waktunya anda membuat akar di pers nasional,” kata Amir waktu itu.

Banyak orang menggambarkan Rosihan sebagai figur wartawan yang angkuh dan sinis. Tapi saya tidak pernah mendapat perlakuan angkuh atau sinis dari Rosihan selama saya berada di bawah bimbingannya dari  1968 sampai 1972. Malah dia memberi saya kesempatan dan kepercayaan mengisi kolomnya, Petabumi Politik, setiap Senin, bila dia keluar kota, dengan kolom saya, Almanak Politik. Formatnya sama dan gaya penulisan mengikuti pendekatannya atas suatu berita.

Suatu hari, saya kena tugas redaktur malam. Entah kerena kesibukan apa, sudah lepas magrib ketika supir Rosihan datang membawa tajuk rencananya. Biasanya, tajuk Rosihan mengalir, enak dibaca, dan kena langsung pada sasarannya. Kali itu saya merasa ada yang mengganjal. Tulisan itu serasa tidak mengalir. Maka saya pindahkan satu paragraf ke atas paragraf yang di atasnya. Dengan begitu, barulah tulisan itu mengalir.

Keesokan harinya, ketika saya tiba di kantor dari rutinitas mencari berita, saya disambut oleh sejumlah redaktur yang jauh lebih senior dari saya, bahkan ada yang bekas Pedoman “lama” (yang dibredel oleh Presiden Sukarno tahun 1961). Rupanya Rosihan sudah menelepon Masmimar, menanyakan siapa yang mengedit tajuknya.

Lu, anak kemarin, berani-beraninya mengedit tulisan Pak Rosihan. Aku, sudah dari Pedoman dulu, tidak berani mengedit tulisan Pak Rosihan. Ini, tajuknya, lu edit! Abis deh lu! Dipecat lu!” kata seorang redaktur senior. 

Bergetar juga hati saya waktu itu. Habislah saya, kata saya dalam hati, mengingat kata orang tentang arogansi dan sinisme Rosihan.

Sekitar pukul tiga sore, hari itu Rosihan masuk ke ruang redaksi – seperti biasa-- baju lengan pendek, saputangan di krag baju dan bersandal kulit. “Sore, Ji,” sapa saya. Dia berhenti di depan meja saya dan bertanya,”Kamu yang mengedit tulisan saya”. “Iya, Ji”, jawab saya.
“Kenapa?”
“Rasanya kurang mengalir, Ji”.
“Oh, begitu,” jawabnya sambil masuk ke ruangannya di belakang meja saya.

Rosihan, walaupun dia pemimpin redaksi, seorang senior di dalam jurnalisme, dia menghormati otoritas redakturnya. Dia selalu ingin sedikitnya ada sepasang mata lain yang membaca tulisannya –sekalipun itu juniornya?sebelum tulisannya masuk type setter, yang memindahkan kata-kata di atas kertas itu ke timah panas linotype.   

Legacy atau warisan Rosihan itu saya bawa terus sampai sekarang, dan selalu mengingatkan para redaktur senior untuk menghormati otoritas redaktur yang bertugas. “Anda boleh redaktur, tapi ketika ke luar mencari berita, anda adalah reporter. Anda melaporkan tulisan anda untuk diedit oleh redaktur anda, sekalipun dia junior anda.” Itu pesan yang selalu saya sampaikan dalam berbagai kuliah saya kepada wartawan.

Masalahnya, banyak wartawan muda takut mengedit pekerjaan seniornya,  tanpa menyadari bahwa kalau ada “lubang” di dalam tulisan itu, dia juga yang bertanggung jawab karena dia tidak melaksanakan fungsi editingnya. 

Rosihan adalah wartawan yang setia pada profesinya, hidup sederhana dan tidak pernah mau tunduk pada tekanan penguasa. Dia menolak tawaran almarhum Presiden Soeharto untuk menjadi dutabesar Indonesia untuk Vietnam. Dia tahu itu adalah salah satu cara Soeharto untuk mengasingkannya dari kelompok yang kritis terhadap Orde Baru.

Menteri Penerangan Ali  Moertopo tidak senang melihat pengaruh Rosihan pada wartawan anggota PWI, lalu dia mendorong dan mendukung  B.M. Diah yang juga mencalonkan diri sebagai ketua umum Persatuan Wartawan Indonesia dalam kongres di Palembang 1968.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title LKBN ANTARA Gelar Pra-UKW, Dorong Profesionalisme Jurnalis
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut