Kenapa Tarif KRL Commuter Line Naik?

KRL di Stasiun Bekasi
KRL di Stasiun Bekasi
Sumber :
  • ANTARA

VIVAnews - Mulai Senin, 1 Oktober 2012, tarif baru KRL Commuter Line resmi diberlakukan. Kenaikan tarif Rp2.000 itu untuk semua jurusan di wilayah Jabodetabek.

Untuk lintas Bogor Jakarta Kota/Jatinegara yang semula Rp7.000 naik menjadi Rp9.000. Bogor-Depok dari Rp6.000 naik menjadi Rp8.000. Depok-Jakarta Kota/Jatinegara dari Rp6.000 naikĀ  menjadi Rp8.000.

Kemudian Bekasi-Jakarta Kota dari Rp6.500 naik menjadi Rp8.500. Tangerang-Duri dari Rp5.500 naik menjadi Rp7.500, dan Parung Panjang/Serpong-Tanah Abang dari Rp6.000 naik menjadi Rp8.000.

Sekretaris Perusahaan PT Kereta Api Commuter Jabodetabek (KCJ), Makmur Syaheran, mengatakan bahwa tiket Commuter Line terpaksa dinaikkan sebesar Rp2.000 lantaran berbagai faktor, salah satunya ialah untuk menutupi utang yang telah menggunung.

"Commuter Line bukan kereta bersubsidi. Sehingga pengadaannya pun harus diperhitungkan. Terkait hal itu pula, saat ini kami terus berbenah untuk menjaga kenyamanan penumpang, salah satunya dengan menambah armada," kata Makmur kepada VIVAnews.

Saat ini, lanjut Makmur, 30 rangkaian Commuter Line telah didatangkan dari Jepang. Harga per satu rangkaian mencapai Rp1 miliar. Kendati bukan barang baru, namun Makmur meyakini, kondisi rangkaian kereta itu masih layak pakai.

"Kami hanya menyesuaikan dengan biaya. Kalau beli baru, harga satu rangkaian mencapai Rp10 miliar. Kalau kami paksakan, maka harga tiket bisa mencapai Rp50 ribu dan ini akan sangat membebani masyarakat," tandasnya.

Direktur Keuangan PT KCJ, Tri Handoyo, menambahkan selama ini pihaknya terus mengalami kerugian. Namun ditanya berapa total kerugian yang dialami oleh PT KCJ, ia enggan membeberkan. "Yang pasti rugi, percayalah," kata Handoyo.

Ia mengungkapkan, kerugian tersebut bisa dilihat dari biaya operasional per orang. Menurutnya dengan adanya kenaikan ini PT KCJ masih mengalami kerugian.

Untuk rute Jakarta - Bogor, kata dia, biaya operasional yang dikeluarkan adalah Rp10.700 per orang. Dengan nilai tarif saat ini, yakni Rp7.000 per orang, maka KCJ rugi Rp3.700 per orang. "Jadi dengan naik Rp2.000 juga kami masih nombok," kata dia.

Menurut Tri kebijakan itu diambil setelah melakukan kajian. Salah satu pertimbangan untuk menaikkan tarif sebesar Rp2.000 itu adalah dengan melihat hasil riset lembaga penelitian Universitas Indonesia mengenai kesediaan konsumen membayar berdasarkan persepsi kualitas dan pelayanan yang diterima.

Dari hasil riset tersebut, rata-rata konsumen untuk Bogor-Jakarta menyatakan rela membayar sebesar Rp8.724, Sehingga cukup mendekati dari tarif yang akan dipatok Rp9.000.

Kemudian untuk rute Depok-Jakarta survei tersebut mencatat masyarakat mampu membeli tiket seharga Rp8.929. Padahal tarif akan menjadi Rp8.000. "Untuk Depok-Jakarta bahkan mampu membayar lebih Rp8 ribu, ini mungkin karena tingkat pendapatan warga antar wilayah tersebut lebih tinggi," katanya.

Sedangkan untuk rute Bekasi-Jakarta menurut survei tersebut warga sanggup membayar Rp8.132 dari usulan tarif Rp8.500. Sedangkan untuk Parungpanjang-Jakarta 7.841 dibandingkan usulan tarif baru menjadi Rp8.000. Dan Tanggerang-Jakarta Rp7.120 di bawah usulan tarif Rp7.500.

Dalam survei tersebut, kata dia, UI menyarankan agar setiap rute dilakukan penyesuaian dengan menaikkan tarif sebesar 20 persen. "UI menyarankan untuk naik 20 persen. Jadi itu persepsinya, dan kami mengambil langkah di bawah itu, dengan meratakan semua kenaikan sebesar Rp2.000 di setiap rute," ujar Tri.

Selain itu, survei juga dilakukan dengan melakukan jajak pendapat para penumpang KRL Commuter Line dilihat dari segi keselamatan penumpang kereta. Dari skor 1-10, Commuter Line diberi skor 4. Sedangkan untuk ruang tunggu hanya diberi nilai 3,76 dari skor maksimal 10. "Jadi kalau sampai skor 6 saja itu sudah cukup bagus. Kami percaya pelayanan belum jauh dari sempurna, tapi ini faktanya," tambahnya.

Beralih ke KRL Ekonomi

Sejumlah penumpang mengeluhkan adanya kenaikan tarif ini. Berdasarkan pantauan VIVAnews Senin pagi di Stasiun Bogor, penumpang tidak ramai seperti hari biasanya. Sebagian pekerja memilih berangkat lebih awal supaya biasa naik kereta kelas ekonomi yang tarifnya jauh lebih murah. Untuk jurusan Bogor-Jakarta, tarif yang dipatok hanya Rp2.000, sedangkan Depok-Kota Rp1.500.

Commuter Line pemberangkatan pukul 7.10 tampak lengang karena penumpangnya banyak yang sudah naik KRL Ekonomi berangkat dari Bogor pukul 7.00 WIB. "Saya tidak rela mengeluarkan uang lebih Rp2.000, lebih baik naik ekonomi sekalian karena sama saja, penuh-penuh juga," kata salah seorang penumpang bernama Sekar.

Banyaknya penumpang Commuter Line yang beralih ke KRL Ekonomi mengakibatkan kereta bersubsidi itu menjadi semakin sesak. Penumpang berjubel hingga ke atap gerbong.

Penolakan penumpang juga ramai dibicarakan di media sosial. Penumpang menyampaikan keluhannya melalui akun Twitter KRL Mania. Juru bicara KRL Mania, Nurcahyo, mengatakan pada hari pertama kenaikan tarif ini, masalah klasik dalam operasional masih saja terjadi.

Berdasarkan informasi penumpang, masalah yang mengganggu pelayanan itu seperti pintu yang mengganjal, AC mati, dan kereta molor dari jadwal. Seharusnya, kata dia, sebelum tarif dinaikkan, PT KCJ sudah memperbaiki dan menyiapkan fasilitas pendukung.

Nurcahyo juga mengkritisi diluncurkannya Commuter Line khusus wanita. "Secara niat memang ada manfaatnmya, tapi secara urgensi belum," kata Nurcahyo. Dia menilai alangkah baiknya jika penambahan perjalanan rangkaian khusus wanita itu dibuat untuk rangkaian umum. Dengan begitu maka kepadatan penumpang pada jam sibuk dapat sedikit berkurang. Toh, kata dia, selama ini kabin khusus wanita juga sudah disediakan di gerbong satu dan gerbong delapan.

Selain itu, kata Nurcahyo, penumpang tidak pernah menuntut adanya rangkaian khusus wanita. "Silahkan dicek di milist, akun Facebook, dan juga Twitter," ucapnya.

Meski tarif baru sudah diberlakukan Nurcahyo mengaku akan terus mengupayakan agar kebijakan itu bisa dianulir. Karena itu KRL Mania mendesak pemerintah dan DPR untuk melakukan intervensi terhadap PT KCJ. "Kalau pemerintah turun tangan, kenaikan bisa dibatalkan. DPR sebenarnya menolak, tapi hanya sebatas omongan," ujar dia.

Dia menjelaskan saat ini dukungan di http://www.change.org/id/petisi/batalkan-kenaikan-tiket-krl, sudah terkumpul hinggan 2.800 orang. Dalam waktu dekat petisi itu akan disampaikan pada PT Kereta Api Commuter Jabodetabek, PT Kereta Api, Kementerian Perhubungan dan Kementerian BUMN.

Dijaga Ketat

Semantara itu, Polresta Depok, menyiagakan sejumlah personelnya di seluruh stasiun yang ada di Depok, Jawa Barat.

Kepala Bagian Operasional Polresta Depok, Komisaris Suratno, menyatakan akan terus melakukan pengamanan di sejumlah stasiun hingga satu pekan mendatang.

"Hanya antisipasi saja. Kami khawatir ada kericuhan atau hal-hal yang sifatnya mengganggu kenyamanan penumpang kereta," kata Suratno. (eh)