Coba-coba Obat Ebola

Ilustrasi virus.
Sumber :
  • REUTERS/Frederick Murphy/CDC/Handout via Reuters

Obat ebola

img_title Keluarga Korban Kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 Bisa Datangi Polda Kalsel Serahkan Data

Seiring korban meninggal dunia yang semakin banyak, para ahli farmasi di berbagai negara melakukan uji coba obat-obat penanggulangan Ebola. Sejak ditemukan pada 1976, virus yang diyakini berasal dari kelelawar ini belum ada obatnya.

Namun, ada risiko bahaya menggunakan obat baru yang belum diujikan kepada manusia. Kebanyakan obat-obat ini baru diujicobakan pada hewan. Tetapi, mengambil risiko efek samping lebih baik ketimbang kematian. Akhirnya, WHO menyetujui menggunakan obat yang belum diujikan.

Kebijakan WHO ini diambil usai dua relawan asal AS yang dipulangkan ke negaranya membaik, setelah menerima injeksi ZMapp. Namun, seorang pendeta Spanyol yang juga mendapatkan perawatan dengan obat yang sama meninggal dunia Selasa kemarin.

ZMapp adalah kombinasi dari tiga monoclonal antibodi yang mengikat protein dari virus ebola. Obat yang dikembangkan oleh perusahaan Mapp Biopharmaceutical Inc. di San Diego, AS, ini sebenarnya belum diujikan kepada manusia untuk mengetahui keamanan dan efektivitasnya.

Pemerintah Liberia langsung menghubungi AS untuk diberikan obat jenis ini. Selain belum diujikan, ZMapp juga masih sangat terbatas dan belum siap untuk diproduksi dalam skala besar. Senin lalu, pemerintah Liberia mengatakan, ZMapp akan diujikan kepada dua dokter lokal yang terjangkit virus ini.

"Kami tahu akan ada risiko yang terkait dengan konsumsi obat itu. Namun, memilih sebuah risiko dibandingkan kematian, maka saya yakin banyak orang yang juga ingin melihat risiko macam apa yang dapat terjadi," ungkap Menteri Informasi Liberia Lewis Brown.

Kendati WHO mengijinkan penggunaan obat yang belum diujikan, namun konsumsinya harus tetap dipantau tim medis. Selain itu, kandungan obat juga harus tercatat, setiap perubahan di tubuh pasien harus termonitor.

Marie-Paule Kieny, asisten direktur jenderal WHO, dikutip Washington Post, mengatakan pencarian obat untuk ebola oleh banyak perusahaan farmasi di seluruh dunia kemungkinan akan membuahkan hasil antara November 2014 dan Januari 2015.

Kanada sendiri telah menyatakan akan menyumbangkan 8.00 hingga 1.000 dosis vaksin ebola yang mereka kembangkan di lab pemerintah kepada WHO. Menteri Kesehatan Kanada, Roba Ambrose, mengatakan keputusan ini diambil setelah WHO memperbolehkan digunakannya obat yang belum melalui uji coba pada manusia.

"Pemerintah kami berkomitmen melakukan semampunya untuk mendukung mitra internasional kami, termasuk menyediakan staf untuk membantu respons penanggulangan wabah, pendanaan, dan akses ke vaksin eksperimental kami," kata Ambrose, dilansir Reuters.

Menurut Dr. Greg Taylor, wakil ketua Badan Kesehatan Publik Kanada, vaksin mereka ini terbukti ampuh mengatasi ebola pada hewan, tetapi belum diujikan pada manusia. "Kau tidak tahu seberapa aman dan apa efek samping obat ini. Tapi untuk situasi seperti di Afrika saat ini, kami berupaya semampunya untuk membantu," kata Taylor.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut