Banyak Proyek Besar di Irak
- VIVAnews
Irak ini punya piutang terhadap Indonesia senilai US$70 juta atau Rp841 miliar. Saya sudah pelan sekali masuk, agar utang itu bisa dibayarkan, dan kini Gubernur Bank Sentral Irak sudah mengiyakan. Namun, kenyataannya satu pun tidak ada yang mau berangkat dari Indonesia.
Â
Saya sampai tidak habis pikir dan bertanya mengapa tidak ada yang menagih ke sana. Mereka mengaku takut untuk datang ke Irak. Tapi, takutnya bukan karena kemunculan kelompok Negara Islam (ISIS). Ketakutan itu sudah muncul tahun 2012 lalu. Saya sudah berkali-kali datang ke mari untuk rapat.
Tempo lalu, saya meminta agar satu tim kecil dikirim lebih dulu ke Irak paling tidak untuk membuka pintu. Dulu, ketika Irak dikenai embargo, Indonesia turut membantu memasok barang-barang dan kini sedang dijumlah.
Saya sudah mengatakan kepada Pemerintah Irak, supaya mereka membayar utang mereka penuh, karena Indonesia bukan termasuk anggota Paris Club. Hal tersebut juga sudah dibahas dalam Sidang Komisi Bersama tahun 2010 dan disetujui.
Saya sudah meminta berkali-kali agar tim dari Indonesia ikut hadir. Nanti, apabila mereka tidak mau membayarkan dalam bentuk uang cash, kita ambil minyaknya juga boleh.
Saya malah berpikir, persoalan terbesar itu ada di Indonesia. Misalnya pameran yang saya sebut tadi. Contoh lainnya, misal fun trip dengan mengajak wartawan Irak untuk datang ke Indonesia. Penduduk Irak kan cukup sering bepergian ke Turki dan beberapa negara Eropa. Mereka itu bangga sekali kalau disebut Indonesia.
Walaupun saya memang tidak bisa menutup mata, ada oknum satu atau dua orang yang nakal dan ingin lari ke Australia. Saya tanya balik memang berapa persen yang ingin menggunakan kesempatan itu? Kenapa karena masalah itu, lalu ingin menutup segalanya?
Saya kadang bermasalah dengan pihak imigrasi. Sebab, mereka sering menghentikan orang Irak yang ingin berkunjung ke Indonesia. Saya kebetulan pernah mengalami sendiri, ketika sedang pulang ke Indonesia, lalu di depan saya ada warga Irak. Lalu, dia dibawa ke ruang gelap oleh petugas imigrasi.
Saya ikuti orang itu dan tanya kepada petugas imigrasi. Saya katakan saya Dubes RI di Irak dan yang berwenang untuk mengeluarkan visa bagi orang ini.
Baru-baru ini ada orang Irak yang ditangkap di Indonesia karena ingin mencari suaka. Saya memang akui, masih ada kelemahan sehingga ada warga Irak yang memanfaatkan visa dan lolos. Di sini kan juga ada sindikat, agar bisa menyeberang ke Australia. Modusnya, dengan membayar sejumlah dana dan masuk ke dalam perlindungan Badan Pengungsi PBB (UNHCR).
Itulah beberapa kendala yang dihadapi. Namun, tidak semua warga Irak begitu. Ada beberapa pengusaha yang serius dan ingin memesan rempah-rempah dari Indonesia.
Irak memiliki potensi paling besar untuk dijadikan lahan investasi di bidang minyak. Sementara Indonesia butuh minyak. Itulah sebabnya saya merasa sedih, karena apa yang telah diupayakan sejak lama, kandas begitu saja, karena di Indonesia tidak sambut positif.
Ada berapa ladang minyak yang bisa dijadikan lahan untuk kerja sama?
Bukan ladang minyak yang dikerjasamakan, karena pengusaha Indonesia nanti tidak kuat. Di Irak, 100 ribu hingga 200 ribu barel minyak per hari dianggap kecil dan tidak perlu dilelang.
Yang dilelang itu yang kapasitas 1 juta barrel per hari. Pengusaha Indonesia tidak ada yang kuat. Pertamina saja hanya mengambil 10 persen sahamnya PT Exxon Mobil di kota Al-Qurnah.
Sementara, kenyataan yang ada, Irak butuh kilang. Daripada Indonesia malah terus mengimpor minyak dari luar, bangun dong kilang minyak milik kita sendiri. Terakhir, kilang minyak yang dimiliki berasal dari Balongan.
Irak juga memberikan dukungan untuk penggunaan minyak mentahnya, entah selama 20 atau 30 tahun. Irak sendiri sudah berniat untuk ikut bantu berinvestasi. Tetapi, sepertinya ada pihak di Tanah Air yang menilai hal itu tidak menarik. Buat oknum itu lebih menarik jika membeli minyak dari luar Irak.
Di Irak, saya sampai disebut dubes yang getol dan sudah tidak memiliki rasa malu. Tujuannya supaya bisa memperoleh proyek itu demi membantu Indonesia.
Namun, proyek yang dipegang Pertamina itu sudah tidak lagi. Sisanya tinggal kepemilikan saham bersama di PT Exxon Mobil.
Tapi hasil acara TEI yang lalu, apakah ada kesepakatan tertentu?
Saya tidak dengar seluruhnya. Tetapi memang ada beberapa, antara lain dengan PT Indorama untuk proyek polyester. Mereka juga sedang membicarakan mengenai proyek kabel dengan PT Voksel Electric Tbk, arang untuk sisha. Arang Indonesia sangat dikenal bagus.
Seberapa terkenal Indonesia di Irak?
Indonesia dikenal sebagai negara Muslim yang terbesar. Oleh sebab itu, mereka berharap sekali Indonesia bisa ikut berinvestasi. Wakil presidennya sampai mengatakan, mengapa dolar mereka hanya dikonsumsi oleh orang barat terus dan bukan dari kaum Muslim?
Kedua, mereka mengaku banyak kecewa dengan produk China, sementara produk buatan Indonesia diakui kualitasnya lebih baik. Produk-produk Indonesia yang masuk ke Irak, antara lain mebel. House of Java di sana kan menjual mebel buatan Jepara.
Saya kagum karena ada sebuah meja makan yang tebuat dari kayu jati dan laris diburu orang. Padahal, harganya mencapai US$12 ribu atau setara Rp144 juta. Â
Berapa produksi minyak Irak per hari?
Angkanya mencapai 3 juta barel per hari. Nantinya, akan mencapai 7 juta per hari pada tahun 2015. Irak sudah sangat ingin membantu orang-orang yang pakai minyak Irak.
Saya terus meminta agar minyak tidak hanya diklaim oleh Pertamina saja, tetapi juga oleh perusahaan swasta. Maksud saya, dengan Indonesia berinvestasi minyak di Irak dan harganya bersaing, bukankah jauh lebih menghemat? Itu harapan kami.
Irak juga menganggap seharusnya kerja sama yang dijalin dengan Indonesia bisa lebih erat. Sementara Malaysia yang tidak memiliki Kedutaan di Irak, malah bisa menempatkan investasi dari Petronas.
Berapa banyak minyak mentah yang diambil Indonesia dari Irak?
Belum ada. Baru Pertamina kemarin saja yang berhasil tahun 2013. Hanya 35 ribu barel per hari. Namun, saya tidak tahu lagi pelaksanaannya, karena setelah itu saya tidak diinformasikan kembali.
Apa harapan Anda terhadap pemerintahan baru?
Saya rasa apa yang dikatakan Presiden Jokowi sudah tepat, yakni dengan berkonsentrasi bagaimana memajukan perdagangan Indonesia. Adanya kami di luar negeri kan fungsinya untuk itu. Namun, kami berharap, respons di dalam negeri juga seirama. Jadi, apa yang kami perjuangkan di sana, turut didukung oleh pemerintah di dalam negeri. (aba)