Kabar Buruk dari Panasonic dan Toshiba
Kamis, 4 Februari 2016 - 06:21 WIB
Sumber :
- wikimedia.org
Â
"Kalau disampaikan ke sini, kami belum (menerima informasi formal)," kata Kepala BKPM, Franky Sibarani, di kantor BKPM, Jakarta, Rabu 3 Februari 2016.
Â
Franky mengaku mendapatkan informasi secara informal bahwa produk mereka kalah bersaing dengan produk dari Tiongkok. Untuk itu, mereka mengalihkan produksinya ke produk yang lain.
Â
"Ada satu yang menyampaikan bahwa dari sisi kompetisi, produk mereka kalah dari produk Tiongkok. Mereka switch ke produk lain," kata dia.
Â
Franky menambahkan ada juga yang menyebutkan bahwa dua industri tersebut tengah melakukan restrukturisasi perusahaan.
Â
Laman CNBC, Rabu 3 Februari, melaporkan Toshiba, perusahaan elektronik asal Jepang bulan lalu telah mengumumkan akan melakukan PHK hampir 7.000 tenaga kerja, menyusul ditemukannya skandal akuntansi senilai US$1,3 miliar dalam perombakan perusahaan agar lebih efisien.
Â
Seperti diketahui, manajemen Toshiba saat ini lebih memilih mengubah fokus bisnis menjadi ke produksi chip dan energi nuklir.
Â
Toshiba juga mengatakan, akan menjual pabrik televisi terbesarnya di Indonesia, dan fokus untuk mengubah bisnis dari perusahaan yang memproduksi PC ke energi nuklir. Diperkirakan jumlah karyawan yang dikurangi mencapai 10.000 buruh, baik yang di-PHK dan yang melakukan pensiun dini.
Â
Pada kuartal I-2016, Toshiba diperkirakan akan menderita kerugian bersih sebesar US$4,53 miliar, karena biaya restrukturisasi perusahaan, termasuk proses penutupan pabrik di Cikarang, Indonesia.
Â
"Dengan menerapkan semua ini, kami ingin mendapatkan kepercayaan kembali dari pemegang saham, bahwa kami akan mengubah bisnis menjadi lebih kuat," ungkap manajemen Toshiba dalam sebuah pernyataan.
Â
Pada Agustus tahun lalu, Toshiba membukukan kerugian bersih 37,8 miliar yen karena membengkaknya biaya operasional. Hingga saat ini Toshiba masih melakukan penyelidikan terkait skandal akuntansi.
Â
Sejak adanya pemberitaan terkait skandal akuntansi itu, harga saham Toshiba anjlok hingga 40 persen.
Â
Sayangnya, sebagian besar analis mengatakan bahwa Toshiba telah terlambat melakukan restrukturisasi perusahaan. Perusahaan ini sebelumnya meluncurkan produk laptop untuk pertama kalinya pada 1985. Belakangan, laptop produksi Toshiba kurang diminati konsumen Asia karena persaingan harga. Â
Â
Sementara itu Presiden Direktur Panasonic Manufacturing Indonesia (PMI) Itchiro Suganuma mengaku masih optimistis terhadap perkembangan industri elektronik di Indonesia.Â
Halaman Selanjutnya
Â