Rutin Impor Daging Sapi, Solusi Turunkan Harga?
- wallpapersinhq.com
Upaya membuka keran impor di luar Australia dan India, tentu patut diapresiasi saat ini, khususnya dalam hal menghilangkan monopoli impor daging. Langkah ini juga menjadi sumber diversifikasi pasar impor sehingga membuat adanya keseimbangan harga daging.
Enggar menambahkan, dengan upaya ini hal yang kemudian akan diantisipasi ke depan, tentunya adalah pendistribusian daging ketika impor tiba. Karena, seharusnya dengan bertambahnya pasokan daging impor kebutuhan daging terpenuhi dan harga mencapai kestabilan serta bertahap menuju Rp80 ribu per kilogram.
Tak efisien
Sebelumnya, Mantan Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong menyebutkan, perlunya pemerintah melakukan impor daging sapi saat ini, karena rantai pasok khusus daging sapi masih panjang, sehingga membuat julur perdagangan sapi kurang efisien ke masyarakat.
Rantai pasok yang panjang tersebut menurut Thomas dimulai dari manajemen pengelolaan peternakan dan produktivitas Rumah Potong Hewan (RPH).
Saat ini, untuk negara maju seperti Australia pengelolaannya memanfaatkan Sumber Daya Manusia (SDM) semaksimal mungkin, dengan 600 ribu sapi dikelola hanya oleh enam orang, sementara dalam pemotongannya menggunakan mesin canggih.
"Efisiensinya luar biasa dengan mesin canggih bisa ribuan karkas diproduksi per jam. Sementara, kita puluhan orang dengan peralatan sederhana, satu jam mungkin satu karkas. Itu ongkos per unit beda. Kita tinggi mereka rendah. Rumah potong hewan di luar negeri seperti industri pemotongan," ujar dia.
Berantas kartel
Sementara itu, Pengamat Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Revrisond Baswir menilai, tidak selamanya impor daging sapi menjadi jawaban atas tinggi harga daging sapi di pasar domestik saat ini. Sebab, yang jadi masalah sebenarnya adalah pada penyediaan data suplai dan permintaan daging itu sendiri.
Keakuratan data yang masih perlu diklarifikasi tersebut, menjadi satu masalah tak terselesaikan dalam tata niaga daging di Indonesia, sehingga meski suplai ditambah pemerintah melebihi permintaannya, tetapi tata niaganya dikuasai oleh kartel, harga akan tetap dipermainkan.
Hal inilah, tercontoh dari apa yang sudah dilakukan pemerintah sekarang ini, dengan melibatkan Bulog, namun minim modal. Sehingga, kinerjanya sulit untuk melawan kartel daging sapi yang sudah menggurita di dalam negeri. "Kalau mau ini berhasil, perkuat Bulog, agar ikut jaga stabilitas pangan," ujar dia.