Jilbab Bikin Eropa Galau
- crazzfiles.com
Seorang Muslimah yang sedang berjemur santai di pantai Promenade des Anglais di Nice, Prancis, pada 23 Agustus 2016, dipaksa melepaskan burkini yang ia kenakan. Diberitakan oleh BBC, empat polisi Prancis mengelilingi wanita tersebut sambil memegang semprotan lada dan tongkat, seperti sedang menghadapi demonstran. Muslimah itu mengalah, ia melepaskan burkininya.
Dua hari sebelumnya, kasus yang sama juga terjadi di sebuah pantai di Cannes. Seorang Muslimah didenda dan diminta meninggalkan pantai. Padahal ia hanya mengenakan penutup kepala, bukan burkini.
Dikutip dari abc.net.au, sudah tiga wilayah di Prancis yang melarang Muslimah mengenakan burkini di pantai. Pelarangan ini menimbulkan kecaman dari kelompok pendukung hak asasi manusia. Menurut mereka pelarangan tersebut adalah pelanggaran HAM yang serius dan illegal dalam penegakan HAM, termasuk membatasi kebebasan beragama pada seseorang.
Sikap Terbelah
Sikap Eropa pada Islam dan Muslim nyata terbelah. Gelombang pengungsi dari negara yang terlibat perang dan konflik seperti Suriah, Afghanistan, Irak, Libya, dan Lebanon, tahun lalu membanjiri Eropa dalam jumlah yang signifikan. Lebih dari 1 juta pengungsi dan imigran memasuki nyaris seluruh wilayah sekumpulan negara maju tersebut. Lebih dari 90 persen diantara pengungsi dan imigran yang datang beragama Islam.
Aksi teror yang dilakukan oleh kelompok militan ISIS dan pendukungnya di Belgia, Prancis, Jerman, Inggris, dan sejumlah negara Eropa, membuat rakyat dan pemerintah negara Eropa hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran. Bahwa pengungsi dan imigran yang beragama Islam dan memasuki negara mereka, akan membawa kekacauan. Itu menjadi alasan tak semua negara Eropa bersedia membuka pintu bagi pengungsi.
Bahkan meski Uni Eropa meminta seluruh negara di Eropa untuk berbagi dan menerima pengungsi sesuai kemampuan masing-masing negara. Tak semuanya bisa menerima. Hungaria merespon permintaan Uni Eropa dengan menutup perbatasan mereka. Serbia dan Kroasia mengikuti langkah Hungaria.
Inggris yang marah atas sikap Eropa akhirnya melakukan referendum. Hasilnya, rakyat Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa. Kasus pengungsi bukan satu-satunya pemicu, namun kasus itu menjadi puncak gunung es kekecewaan Inggris pada Uni Eropa. Sementara Angela Merkel, Kanselir Jerman yang memilih untuk tetap menerima pengungsi harus menelan pil pahit. Elektabilitasnya terus menurun. Namun Merkell bergeming. Atas nama kemanusiaan ia mengatakan akan tetap menerima pengungsi.