Haji adalah Wukuf di Arafah
- VIVA.co.id/Arinto
VIVA.co.id – Dua bus ukuran sedang meluncur dari Kantor Urusan Haji Indonesia di Mekah, Selasa sore, 6 September 2016. Iring-iringan bus berjalan cepat. Membelah kota Mekah yang cerah dengan suhu berkisar 40 derajat celsius.
Di depan dan belakang bus, beberapa mobil mengawal. Semuanya berstiker merah putih di bagian depan dan samping kanan kiri bodi mobil.
Bukan iring-iringan biasa. Di dalam bus pertama, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, dan pejabat eselon I serta II Kementerian Agama, turut dalam rombongan.
Sekitar 20 menit kemudian, rombongan tiba di Arafah. Menteri agama yang juga amirul hajj, langsung mengecek kesiapan tenda-tenda bagi jemaah haji Indonesia.
Hampir semua fasilitas sudah terpasang. Termasuk karpet yang relatif baru, dan water fan sebanyak 101 unit untuk tiap maktab.
Jemaah haji Indonesia, nantinya akan terbagi dalam 52 maktab. Dalam satu maktab akan dihuni sekitar 3.000 jemaah haji.
Fasilitas lain adalah tenda untuk klinik kesehatan sederhana dan dapur memasak. Toilet bagi jemaah serta tempat berwudu pun telah tersedia dan cukup bersih.
Semua fasilitas itu disiapkan karena pada Minggu 11 September 2016, atau bertepatan dengan 9 Dzulhijjah 1437 Hijriah, jutaan umat muslim dari penjuru dunia, termasuk Indonesia, akan menjalani wukuf di Arafah.
Wukuf dilakukan dari saat tergelincir Matahari hingga terbenam Matahari. Wukuf di Arafah ini yang menjadi penanda puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji.
Makna Wukuf
Dalam nasihatnya kepada jemaah haji Indonesia di Mekah, naib amirul hajj, KH Miftahul Ahyar berpesan tentang hikmah haji.
Menurut Ahyar, wukuf bukan sekadar datang, duduk, dan diam di Arafah. “Tetapi, merupakan proses perenungan diri untuk mengetahui hakikat siapa diri kita sesungguhnya,” tutur Ahyar, Rabu 7 September 2016.
Untuk itu, ketulusan dan keikhlasan dalam melaksanakan ibadah haji menjadi faktor penting. Segala bentuk identitas yang menjadi pembeda satu dengan yang lain harus sudah dilepaskan pada saat niat berihram pada miqat.
Usai haji pun harus ada perubahan yang signifikan dari yang kurang baik menjadi lebih baik.
Anggota amirul hajj, KH Masyhurul Khamis mengimbau jemaah untuk memperbanyak istighfar, memohon ampunan kepada Allah SWT. Harapannya, pada saat wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, serta pelaksanaan melempar jumrah, kondisi jemaah bersih, mendapat ampunan dari Allah, serta memperoleh predikat haji mabrur.
Untuk mencapai harapan haji mabrur itu, tentunya jemaah perlu mempersiapkan ketenangan hati, fisik, hingga kesehatan sejak jauh hari. Bahkan, ketika masih di Tanah Air.