Kontroversi Nobel Sastra Bob Dylan
- REUTERS/Rob Galbraith
Anna North, dari NY Times, lewat tulisannya yang berjudul Why Bob Dylan Shouldn't Have Gotten a Nobel, dengan tegas menyayangkan terpilihnya sang legenda untuk nobel kategori sastra. Anna mengatakan, Bob Dylan adalah sosok yang sangat pantas enerima penghargaan Grammy-nya selama ini, tapi tidak untuk Nobel sastra. Bob sosok musisi yang luar biasa, penyair kelas dunia yang sangat berpengaruh dalam budaya Amerika, khususnya.
"Tapi dengan memberi penghargaan ini padanya, (fakta bahwa) panitia Nobel memilih tidak memberikan penghargaan ini pada penulis adalah keputusan yang mengecewakan," kata North.
Sang jurnalis ini tak menampik Dylan merupakan seorang penyair lagu yang brilian. Ia bahkan sudah pernah menulis buku puisi dan autobiografinya. Namun apa yang ia tulis tak terpisahkan dari musiknya.
"Ia hebat karena ia adalah musisi yang luar biasa dan ketika panitia Nobel memberikan Nobel sastra pada musisi, itu berarti melewatkan kesempatan untuk memberi kehormatan pada penulis," ujarnya lagi.
Terpilihnya musisi 75 tahun ini, Kamis lalu, dinilai sebagai keputusan radikal sepanjang sejarah Nobel sastra sejak 1901. Memilih musisi populer untuk penghargaan tertinggi di bidang sastra membuat banyak pihak mempertanyakan lagi batas sastra Swedish Academy. Perdebatan pun terjadi soal apakah lirik lagu bisa memiliki nilai artistik yang sama dengan puisi dan novel. Banyak yang menganggap, menulis lirik lagu, seberapa pun briliannya, belum bisa mencapai level sastra.
Dilansir CBS News, penganugerahan Nobel sastra pada Bob Dylan juga ramai diperbincangkan di media sosial. Penulis asal Skotlandia, Irvine Welsh, mengatakan keputusan ini adalah sebuah kecerobohan yang membuatnya sakit.
"Jika kalian penggemar 'musik', cari (kata musik) itu di kamus. Lalu (cari) 'sastra', kemudian bandingkan dan bedakan," kata penulis Trainspotting yang juga mengaku fans Bob Dylan ini.
I'm a Dylan fan, but this is an ill conceived nostalgia award wrenched from the rancid prostates of senile, gibbering hippies.
— Irvine Welsh (@IrvineWelsh) October 13, 2016
L’Osservatore Romano yang juga banyak menulis budaya pop ikut mengomentari penghargaan untuk Dylan tersebut. Ia mengatakan, keputusan penyelenggara Novel ini memang membuat banyak penulis sebenarnya kecewa. Padahal banyak pemenang lain yang potensial, seperti Don De Lillo, Philip Roth atau Haruki Murakami yang sudah memiliki berbagai novel atau tulisan yang mengagumkan.