Kembali Tersentak Mutilasi
- Anwar Sadat - VIVA.co.id
Saat itu, warga melihat potongan kaki korban tersangkut di ranting pohon. Temuan itu lantas dilaporkan ke polisi. Petugas lalu mencari potongan tubuh lainnya. Potongan kepala, tangan dan kaki kiri ditemukan. Korban diduga dimutilasi masih dalam keadaan hidup. “Karena dilihat dari ujung sel darahnya timbul. Jika dalam keadaan setelah meninggal baru dimutilasi, sel darahnya tidak akan timbul,” kata Kabid Dokkes Polda Sumatera Selatan Komisaris Besar Polisi Soesilo Pradoto, Senin, 30 Mei 2016.
Setelah tiga bulan penemuan korban, petugas menangkap tersangka pelakunya, yaitu seorang anggota Polresta Bandarlampung Brigadir Medi A dan seorang karyawan swasta Tarmizi alias Dede. Mereka ditangkap berkat penemuan jam tangan dan cincin milik korban yang dikenakan Medi. Jam tangan dan cincin itu mengundang kecurigaan atasannya. Medi pun dibekuk pada Selasa, 26 Juli 2016.
Beralih ke wilayah lain. Kasus mutilasi juga terjadi di Tangerang, Banten. Ketika itu, Nur Astiyah, wanita hamil tujuh bulan, ditemukan tewas tanpa tangan dan kaki di Desa Telaga Sari, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Rabu, 13 April 2016.
Setelah diselidiki, polisi akhirnya membekuk Kusmayadi alias Agus, kekasih korban, diduga sebagai pelaku pembunuhan disertai mutilasi itu. Polisi membekuk Agus di Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 20 April 2016. Pelaku tega menghabisi nyawa korban lantaran diduga diminta untuk menikahi korban lantaran hamil.
Lain lagi kasus mutilasi yang terjadi di Kalimantan Barat, pada Jumat, 26 Februari 2016. Ketika itu, sebuah mutilasi terjadi di sebuah rumah di Gang Darul Falah, Asrama Polres Melawi, Kalimantan Barat.
Di lokasi tersebut, anggota Satuan Intelkam Polres Melawi, Brigadir Petrus Bakus, diduga membunuh dan memutilasi dua anak kandungnya. Setelah melakukan aksi itu, pelaku menyerahkan diri.Tersangka melakukan hal itu diduga lantaran kesurupan.