Duka dari Zona Merah Gempa Aceh
- ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
Dugaan kuat, sesar aktif yang menjadi pembangkit gempabumi ini adalah Sesar Samalanga-Sipopok Fault yang jalur sesarnya berarah barat daya menuju timur laut. Karena terjadi akibat pergerakan sesar lokal. Belum tentu mempengaruhi Sesar Sumatera Besar atau Great Sumatera Faul. Sesar Samalanga satu dari sekian banyak sesar yang berada di sekitar Sesar Sumateara.
Ahli gempa bumi, Cecep Subarya, ikut menegaskan titik gempa yang terjadi di Pidie Jaya ini berada pada sesaran retakan kecil yang berada di sekitar Sesar Sumatera. Sesar lokal yang berada di sekitar patahan yang juga sering disebut sesar Semangko memang banyak sekali. Selain di Aceh, juga berada di daerah Bukittinggi, Solok dan Sijunjung.
Aceh Masuk Zona Merah Gempa
Setidaknya berdasarkan sejumlah pranala, ada delapan gempa besar tercatat yang pernah menghantam Pulau Sumatera sepanjang tahun 2004-2016. Pada 2004, gempa hebat mengguncang pesisir barat Sumatera dan menghantam dengan kekuatan 9,1 skala richter. Gempa ini dilaporkan terbesar ketiga yang pernah tercatat di seismograf.
Bahkan gempa ini juga tercatat terlama, karena mencapai waktu 10 menit dan membuat seluruh wilayah di bumi bergeser hingga 1 sentimeter. Lebih parahnya lagi, gempa ini melahirkan gelombang tsunami puluhan meter dan menyapu bersih Aceh, Bangladesh, India, Malaysia, Myanmar, Thailand, Singapura hingga Maladewa.
Gempa ini secara total menewaskan ratusan ribu orang, dan Aceh terbanyak korban dengan jumlah perkiraan lebih dari 300 ribu orang dan meluluhlantakkan lebih dari 500 ribu bangunan. Gempa terjadi karena geseran Sesar Sumatera Besar atau Great Sumatera Faul yang diperkirakan terpanjang di dunia.
Kepala Badan Geologi Ego Syachrial mengatakan kawasan Aceh memang termasuk dalam zona merah. Dalam peta kebencanaan, banyak pemukiman di Aceh terdapat di atas patahan aktif.
"Kita mengatakan merah memang di Aceh ini. Rawan bencana, apalagi Aceh menjadi salah satu ujung pergerakan lempeng ini (aktif).
Dengan gempa yang terjadi saat ini, yang harus dilakukan Pemerintah adalah mengurangi risiko bencana sebelum bencana terjadi. Pemerintah Indonesia mesti membuatkan ketentuan tegas terkait penyebaran pemukiman warga yang berada di jalur gempa. Langkah ini penting dipikirkan agar ketika terjadi bencana maka korban jiwa dapat diminimalisir. Saat ini, ada 148 juta jiwa tinggal di pemukiman yang dibangun di kawasan rawan gempa. Masyarakt juga perlu ditingkatkan kemampuan mitigasi mereka. Sebab orang Indonesia masih belum memiliki budaya sadar bencana yang baik.