Tugas Berat Sekjen Baru PBB
- Reuters/Lucas Jackson
Sementara itu, Louis Charbonneau, direktur Pengawas HAM PBB meminta Guterres untuk mengawasi pelanggaran HAM di seluruh dunia, bukan hanya di zona perang seperti di Suriah. "Ia harus menggunakan posisi baru dan wewenangnya untuk mengungkapkan terjadinya pelanggaran HAM di seluruh dunia, di mana pun itu terjadi," ujarnya.
Guterres tahu posisinya yang sangat strategis sebagai orang pertama di badan dunia. South China Morning Post memberitakan, janji Guterres untuk terikat secara personal dalam mencari resolusi konflik, sebagai sebuah sinyal bahwa ia akan melakukan pendekatan yang lebih proaktif.
"Ini adalah perang di mana setiap orang mengalami kehilangan. Ini sudah menjadi ancaman bagi setiap orang di seluruh dunia," ujarnya, tegas.
Sejumlah diplomat PBB melihat Guterres sebagai politisi yang terampil. Ia diyakini mampu mengatasi perpecahan yang telah melumpuhkan PBB, terutama soal kasus Suriah.
Di tangan Ban Ki-moon, PBB dianggap mati langkah dalam mengambil sikap soal Suriah. Tantangan lain yang dihadapi Guterres adalah soal terpilihnya Donald Trump menjadi presiden AS. Sebagai pendukung keuangan PBB terbesar, PBB akan selalu beririsan dengan Washington.
"Takut adalah hal yang paling sering menjadi dasar seseorang mengambil keputusan di seluruh dunia," ujarnya.
Orang di seluruh dunia kehilangan kepercayaan pada pemerintah mereka dan lembaga-lembaga global, sehingga ini adalah waktu untuk merekonstruksi hubungan antara rakyat dan pemimpin. Guterres berjanji untuk menunjukkan pada pemerintah baru AS mengenai keinginan kerja sama yang kuat.Â
"Terutama dalam kaitan tentang tantangan besar yang akan kita hadapi bersama-sama," tuturnya.
Pilihan Tepat
Memilih Guterres yang pernah menjabat sebagai direktur UNHCR juga dianggap pilihan yang sangat tepat. Saat menjabat sebagai pimpinan UNHCR, ia justru memangkas pegawai administrasi dan memperbanyak personel di kawasan krisis.
Di tangan Guterres pula, ia berhasil mengajak negara-negara maju agar bersedia menampung pengungsi. Menurut dw.com, saat ini setiap harinya lebih dari 34.000 orang mengungsi. Total jumlah pengungsi di seluruh dunia sudah mencapai 21,3 juta orang.
Guterres mengaku akan memprioritaskan pencegahan krisis jika mengepalai PBB. "Kita butuh meningkatkan diplomasi damai," tuturnya. "Masyarakat internasional selama ini lebih banyak menghabiskan waktu dan dana untuk mengelola krisis ketimbang mencegahnya."