Jejak Darah di Barak Taruna
- VIVA.co.id/istimewa
Dan, itu dilakukan dengan sengaja, memanfaatkan kelengahan pengawasan saat orang tidur, dan seolah tidak ada ketakutan sedikit pun dari pelaku yang ditunjukkannya dengan kembali tidur usai membunuh dan berganti baju seolah tidak terjadi apa-apa.
"Artinya, ada niat. Ada kesalahan dalam berpikir dan konsep hidupnya pelaku," kata Erlinda.
Evnie Indranie, psikolog anak menyebutkan munculnya praktik kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak ditengarai oleh masih belum matangnya proses self control anak.
Menurutnya, anak-anak itu umumnya mengadopsi setiap hal yang didapatnya dalam keseharian. Kekerasan misalnya, saat ini begitu mudah tersebar di mana pun seperti di televisi, game, buku bacaan, dan lainnya.
"Itu bisa bikin satu fantasi dan memori. Karena itu, peran orangtua di sini juga sangat penting, karena orangtua berperan dalam pembentukan karakter anak," kata Evnie.
![]()
FOTO: Aktivitas taruna di SMA Taruna Nusantara/FB@SMA.Taruna.Nusantara
Ya, pemulihan traumatik kepada keluarga korban dan rekan Krisna di SMA Taruna Nusantara memang perlu dilakukan. Namun, lebih penting lagi melibatkan orang tua dalam membangun karakter anak sebelum di sekolah.
Sebab, orangtua menjadi rumah pertama anak-anak menyerap pengetahuan dan ilmu sebelum kemudian diadaptasi, replikasi, dan kolaborasikan dengan pengetahuan yang didapatnya di sekolah.
"Anak harus lebih dikuatkan kembali untuk menciptakan karakter. Sekolah dan keluarga bisa menanamkannya melalui kegiatan dan pembelajaran," kata komisioner KPAI Erlinda. (asp)