Aksi Dendam Jemaah Ansharut Daulah
- Antara/Jessica Helena Wuysang
Atas itu, melihat pada sejumlah kejadian jika merujuk pada kesimpulan polisi, memang bisa dipastikan JAD sebagai dalang seluruh aksi teror, kesan dendam pun terlihat dalam rangkaian teror ini.
Dan, polisi sendiri sebagai target serangan itu. Sebab, JAD merupakan kelompok yang mengamalkan paham Takfiri yang dipopulerkan oleh Aman Abdurrahman.
Paham inilah yang menempatkan personel polisi sebagai prioritas. Dalam paham itu, polisi ditempatkan sebagai Kafir Harbi, yakni kafir yang agresif karena kerap menyerang pemegang ideologi Takfiri.
"Jadi, wajib diperangi duluan (polisi)," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian.
Sejauh ini, Tito mengaku Kepolisian telah memiliki data lengkap mengenai siapa saja tokoh di balik JAD. Beberapa provinsi di Indonesia, bahkan telah terdeteksi ada jaringan JAD. "Mereka memiliki struktur rahasia. Sel-sel mereka tersebar," kata Tito.
FOTO: Kapolri Jenderal Tito Karnavian
Namun, Tito mengaku secara prinsip Kepolisian tidak bisa berbuat banyak atas gerakan JAD. Sebabnya, undang-undang melarang ada tindakan terhadap sebuah kelompok jika tidak ada perbuatan.
"Masalahnya undang-undang tidak mengkriminalisasi perbuatan awal. Tetapi, kalau mereka membuat bom, baru bisa kita tangkap, atau pun bergabung dengan kelompok teroris tertentu," kata Tito.
Senada dikatakan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dari pengamatan TNI sejauh ini di Indonesia telah ada 16 daerah yang menjadi kantong ISIS.
Namun, hukum tidak bisa menindak itu, lantaran mereka belum melakukan aksinya. "UU Terorisme sekarang sangat memanjakan teroris," kata Gatot di Yogyakarta awal Juni lalu.
Selanjutnya, tanpa komando>>>
Tanpa komando
Di luar itu, siapa pun namanya, mau JAD atau bukan, masalah teroris di Indonesia adalah hal pelik yang harus dituntaskan.
Suka atau tidak bisa, jadi kini para pelaku teror ini telah bergerak mandiri dan sporadis tanpa perlu ada komando dari siapa pun. Akses internet dan jejaring sosial yang menebar banyak cara teror untuk membuat bom dan lain sebagainya menjadi panduan kelompok-kelompok ini.
Sehingga, mau ada organisasi JAD atau tidak, mereka yang terinspirasi aksi orang lain yang meneror bom, atau menyerang polisi, bukan tidak mungkin akan menjamur. "Satu serangan dapat menginspirasi yang lain melakukan hal serupa," ujar pengamat teroris Ridlwan Habibi.