Mobil Esemka, Kental Nuansa China
Ketiga mobil itu adalah Esemka Bima 1.3 (pikap), Esemka Digdaya 2.0 (double cabin), dan Borneo 2.7 D (minibus). Para calon konsumen diminta untuk mengisi formulir pemesanan terlebih dahulu.
Tetapi, setelah wujud Digdaya terbaru bergulir, tak sedikit orang yang menyebut jika sosoknya sangat mirip dengan mobil China, yakni racikan dari Guangdong Foday Automobile. Apalagi, Esemka dan Guangdong Foday Automobile pada 2010 memang menjalin kemitraan.
Tetapi tidak jelas, apakah Esemka Digdaya lahir karena memang benar sekadar mengubah emblem Foday ke Esemka, atau merakit dengan mengirimkan komponen dari China, kemudian dirakit dan ditambahkan dengan komponen lokal.
Komentar miring dari masyarakat bukan tanpa dasar. Sebab, jika dicermati dengan saksama, Esemka Digdaya memang sangat mirip dengan Foday F22, identik. Yang membedakan hanya emblem dari mobil sebelumnya.
![]()
Foday F22. Foto: Carnewschina
Warna yang ditawarkan juga sama, di antaranya hitam, putih, dan silver. Seperti dilansir di situs resmi Guangdong Foday Automobile, F22 merupakan mobil double cabin yang memiliki dimensi panjang 5.219 milimeter, lebar 1.870 mm, dan tinggi 1.844 mm.
Mobil itu punya dua pilihan mesin, bensin dan diesel. Untuk jenis bensin memakai mesin milik Mitsubishi dengan seri 4G69S4N berkubikasi 2.378 cc, sedangkan edisi diesel dipercayakan menggunakan seri D19TCID1 turbocharged 1,9 liter.
Mesin lalu disandingkan dengan transmisi manual lima percepatan dengan penggerak roda belakang, penggerak roda depan, serta pilihan penggerak empat roda.
Menurut pengamat Otomotif Bebin Djuana, meski keduanya terlihat mirip, belum tentu juga itu merupakan produk yang sama. "Mirip belum tentu sama, di dunia banyak yang mirip satu dengan yang lain hanya karena tren desain," kata dia kepada VIVA.co.id.
![]()
Esemka Digdaya 2.0. Foto: Istimewa
Dia memahami jika selama ini masyarakat cenderung memiliki sentimen negatif terhadap mobil-mobil China. Mengingat, dahulu Indonesia sempat kebanjiran produk kendaraan dari negeri Tirai Bambu, dan kualitasnya buruk.
"Nah, hal ini lah yang masih membekas di benak konsumen kita. Tapi dunia sudah berubah, mereka (China) juga sudah berbenah. Jika konsumen terus menerus sentimen, justru akan rugi sendiri, karena industri mereka raksasa, sehingga mampu memberikan produk yang bagus dengan harga pantas," kata Bebin.