Kekerasan Perempuan Itu Ada di Kepalamu

Ilustrasi/Tindak kekerasan
Sumber :
  • pixabay.com

Yang jelas, untuk kasus kekerasan pada anak perempuan, khususnya yang berkaitan dengan seksualitas. Setidaknya sepanjang September 2016 hingga September 2017 ditemukan ada 508 anak Indonesia menjadi korban eksploitasi seksual dan komersial anak.

img_title Shira Media Hentikan Cetak dan Tarik Peredaran Buku Mohan Hazian Imbas Dugaan Pelecehan Seksual

Pelik bukan? Ingat, ini belum data tahun-tahun lalu atau data secara global, dan tentu saja itu belum melingkupi kasus yang tak terlapor, disembunyikan atau didiamkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

img_title Kasus Kekerasan pada Perempuan Meningkat! Jangan Takut Lapor, Begini Caranya

Tak terbayang bagaimana menderitanya kaum perempuan dan anak yang ada. Sebab, sekali kekerasan itu didapat maka ia akan membekas selamanya di ingatan. Ini artinya selama hidup, kekerasan yang pernah dirasakan selalu mendera, menyiksa dan terngiang terus.

Dalam Pikiran

img_title Cegah Kekerasan pada Perempuan dan Anak, Majelis Taklim Deklarasikan Siap Emban Peran Penting

Ilustrasi/Aksi Solidaritas untuk korban pemerkosaan dan pembunuhan di Indonesia
Charles Fourier, seorang filsuf dan intelektual Prancis yang hidup pada 1772 hingga 1837 pernah menuliskan bahwa, "Perubahan jaman selalu dapat diukur dari kemajuan yang telah dicapai perempuan."

Kutipan ini menjadi sebuah contoh betapa perempuan penting diperhatikan. Namun demikian di perjalanannya, apa yang dihadapi perempuan ternyata lebih sulit.

Di Indonesia misalnya, dengan konsep agamais dan budaya patriarki yang menghegemoni di seluruh sektor tetap menjadi faktor utama awal mula kekerasan perempuan.

Paradigma bahwa perempuan lemah, penurut, seksi, pengasuh anak, dan lainnya telah menjadi budaya pikir yang meruntuhkan perjuangan perempuan.

Ya, seperti konsep Feminisme radikal yang ditulis Kate Millet dalam Rollin (1996), bahwa konsep patriarki memastikan bahwa laki-laki mempunyai peran maskulin dan dominan. Sementara perempuan ada di posisi subordinat atau feminin.

Ideologi itulah yang mendarahdaging di kepala laki-laki dan perempuan hingga kini. Sehingga, maklum kemudian kekerasan, penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan dan lain sebagainya ikut menjamur.

Aksi Aktivis Perempuan Mengecam Kekerasan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Apa pun itu, kekerasan terhadap perempuan dan anak, apa pun bentuknya harus dilawan. Di Indonesia, masalah ini sudah cukup pelik.

Jangan karena budaya patriarki yang mengejawantah dalam budaya, lalu masalah ini berakhir seadanya. "Jangan sederhanakan kasus kekerasan perempuan menjadi sebatas KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga)" kata Ketua Komnas Perempuan Azriana Rambe Manalu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut