Akhir Sedih Rolling Stone Indonesia
- www.rollingstone.co.id
Majalah Rolling Stone Indonesia mulai beroperasi pada Mei 2005, dan menjadi yang pertama di benua Asia. Legenda musik Reggae, Bob Marley, menjadi sampul depan yang menandai debut perdana Rolling Stone Indonesia. Situsnya mulai dioperasikan beberapa bulan kemudian.
Di negara asalnya, majalah Rolling Stone diterbitkan di San Fransisco pada bulan November tahun 1967. Majalah ini didedikasikan untuk film, musik, politik dan budaya populer. Pendirinya adalah Jann S Werner, yang masih terus menjadi penerbit dan editornya hingga sekarang.
Penulisan Rolling Stone sengaja tak menggunakan huruf S, di bagian akhir, agar publik tak tertukar dengan kelompok band legendaris The Rolling Stones yang dipimpin pria berbibir dower namun bersuara emas, Mick Jagger.
Di laman resminya, mereka mencantumkan misi majalahnya. “Our mission is unchanged: to be inspired, to be informed and to rock & roll!” Demikian kutipan kalimat dari Jann S. Wenner, selaku editor, publisher, dan juga founder majalah Rolling Stone.
Edisi terakhir majalah tersebut di Indonesia, yaitu edisi ke 152, terbit pada Desember 2017. Kepada kantor berita Antara, Eddi Soebari selaku Ketua a&e Media mengakui, industri media yang tengah mengalami perubahan begitu cepat menyebabkan kelesuan pada sisi usahanya secara keseluruhan.
“Perubahan ini sedikit-banyak mempengaruhi ‘infrastruktur’ di sektor industri media,” kata Eddie.
Selanjutnya...Peran Rolling Stone di Indonesia
Peran Rolling Stone di Indonesia
Selama 12 terbit di Indonesia, majalah Rolling Stone berhasil menjadi majalah papan atas yang mengulas musik dan film. Mereka menyajikan laporan tentang pagelaran musik, perubahan genre musik, termasuk industri musik dan film. Adib Hidayat, pemimpin redaksi majalah Rolling Stone Indonesia juga dikenal sebagai pengamat musik.
Semangat Jann S. Wenner, pendiri Rolling Stone di San Fransisco, sebagai anak muda yang menggilai musik dengan perspektif sosial politik yang kritis juga memberi semangat yang sama pada Rolling Stone Indonesia.
Tapi perkembangan dunia digital yang begitu cepat dan menderas membuat iklim media cetak tergerus dengan sendirinya. Meski telah mengakali dengan terbitnya situs online sejak beberapa bulan setelah edisi cetak muncul, toh media ini tetap tak mampu bertahan.