Kisah Mualaf China, Awal Benci Islam Kini Jatuh Hati
- YouTube Ngaji Cerdas
VIVA – Menjadi seorang Muslim dari etnis China, Kih Andre Ho, Koh Aziz, dan Adam Fatih pernah dihadapkan pada berbagai tantangan dan kisah pilu dalam hidupnya.
Para mualaf ini tidak hanya pernah mengalami penolakan dari keluarganya karena beralih keyakinan, tetapi juga, menghadapi beragam hal yang tentunya tetap harus mereka hadapi.
Dalam video yang di unggah dalam Channel YouTube Ngaji Cerdas, Koh Aziz menyatakan bahwa saat ia telah bisa membuktikan untuk menjadi seseorang yang istiqomah, di situlah perlahan mulai ada yang tertarik untuk ikut meyakini bahwa Islam itu indah.
"Ketika saya ketemu Islam, saya bukan benci Islam lagi tapi saya malah jatuh hati dengan Islam, bahkan saya tidak peduli dengan agama saya yang lalu, tidak peduli dengan agama lain, bahkan tidak peduli dengan pemikiran orang lain. Yang saya temui dalam Islam setiap solusi itu ada, dan setiap masalah itu ada, pasti solusinya di sana" ucap Koh Aziz.
Mereka pun menceritakan bagaimana perjalanannya mulai dari pandangan terhadap Islam hingga bisa meyakini dirinya dengan segala tantangan yang ada.
"Rata-rata semua Chinesse, china pribumi yang lahir di Indonesia dan beragama non muslim ini benci sama Islam sudah dari lama, kejadian 98 itu adalah puncak dari kebencian," ujarnya.
Diketahui bahwa hampir seluruh orang China membatasi hubungan dengan orang Islam itu karena mereka menganggap bahwa Islam itu negatif.
"Sebenarnya kebencian orang pribumi dan orang China ini karena ada dinding pembatas dan kesalahfahaman, dimana tidak ada tabayyun. Berbeda jika mereka melihat sesuai dengan porsinya, misal bagi orang China kenapa sih yang maling itu orang Islam, KTP nya Islam. Tetapi kalau dia bisa melihat 'oh ini cuma sedikit dibanding orang Islam lain yang lebih baik," kata Koh Aziz.
Kejadian 98 pun bukan sebab umum dari orang China membenci Islam, melainkan keyakinan yang sudah menetap sejak lama.
"Jadi sebenarnya kenapa orang China benci kepada orang pribumi, itu berawal dari berabad abad, bukan hanya puluhan tahun." imbuhnya