Kisah Kian Santang Bertemu Sayyidina Ali bin Abi Thalib hingga Memeluk Islam
- YouTube
VIVA – Legenda Raden Kian Santang selalu menghadirkan daya tarik tersendiri bagi masyarakat Sunda. Beragam versi berkembang, namun garis besar kisahnya tetap sama, perjalanan seorang putera Prabu Siliwangi yang sakti, penuh wibawa, sekaligus haus akan kebenaran.
Dalam salah satu versi, disebutkan bahwa Kian Santang lahir dari rahim Dewi Kumalawangi di Padjajaran atau yang kini dikenal dengan Kota Bogor pada tahun 1315 M. Sejak muda, kemampuannya sudah menonjol hingga ia diangkat menjadi Dalem Bogor kedua.
Mengutip informasi dari berbagai sumber, Kian Santang dikenal memiliki kekuatan hingga disebut kebal dan tak bisa diluukai senjata. Aura kepemimpinannya kuat dan sorot matanya disebut mampu mengguncang hati lawan.
Meskipun telah menjelajahi seluruh Tanah Pasundan, ia tak pernah menemukan satu pun orang yang bisa membuat tubuhnya terluka. Di sinilah keinginannya muncul, yakni melihat darahnya sendiri untuk pertama kali.
Ia pun meminta sang ayah, Prabu Siliwangi mencarikan lawan yang sanggup mengalahkannya. Sang raja mengumpulkan para ahli nujum. Hingga akhirnya muncul seorang kakek yang memberi petunjuk bahwa orang yang dicari Kian Santang berada di tanah suci Mekkah, bernama Sayyidina Ali.
“Aku ingin bertemu dengannya,” kata Kian Santang.
Namun, ucap sang kakek, untuk bisa bertemu dengannya, ada syarat yang harus raden penuhi. Harus bersemedi di Ujung Kulon dan mengganti namanya menjadi Galantrang Setra. Syarat itu diterima, dan ia pun menjalani semedi selama 40 hari sebelum bertolak menuju Mekkah.
Singkat cerita, setibanya di tanah Arab, ia langsung mencari sosok yang Ali. Di tengah perjalanan ia bertanya kepada seorang laki-laki tegap.
“Anda kenal dengan Sayyidina Ali?,” tanya Kian Santang.
“Kenal sekali,” sahut laki-laki itu.
Lelaki itu bersedia mengantarnya asalkan Kian Santang mengambil tongkatnya yang tertancap di pasir. Namun, meski mengerahkan seluruh kesaktiannya, tongkat itu tak bergeming. Sang lelaki kemudian mendekat, membaca Bismillah, dan mencabut tongkat itu dengan mudah.
Terkejut, Kian Santang bertanya tentang mantra yang digunakan dan minta diajarkan. Lelaki itu menjawab tegas, “Tidak bisa, karena kau bukan orang Islam.”