Orang Baik Sering Hidup Sengsara? Buya Yahya Jelaskan Hal Penting Ini
- Istimewa
Jakarta, VIVA – Tidak sedikit orang bertanya-tanya mengapa mereka yang dikenal baik, sabar, dan tidak pernah menyakiti orang lain justru harus menghadapi hidup yang penuh cobaan. Mulai dari kehilangan harta, sakit berkepanjangan, hingga menjadi korban kezaliman orang lain. Pertanyaan seperti, "Kenapa orang baik sering hidup sengsara?" pun kerap muncul.
Menanggapi hal tersebut, Buya Yahya menjelaskan bahwa dalam pandangan Islam, penderitaan yang dialami seorang mukmin tidak selalu menjadi tanda keburukan. Sebaliknya, ujian bisa menjadi bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya apabila disikapi dengan iman dan kesabaran.
Menurut Buya Yahya, orang yang menjadi korban kezaliman sesungguhnya bukanlah pihak yang kalah di hadapan Allah.
"Orang yang dizalimi, jika benar ia dizalimi, sesungguhnya dia adalah orang yang menang," ujar Buya Yahya yang dikutip dari YouTube pada Sabtu, 27 Juni 2026.Â
Ia mengajak umat Islam melihat persoalan bukan hanya dari sisi kehidupan dunia,Â
Buya Yahya menjelaskan bahwa seorang mukmin tetap wajib berusaha menghindari kezaliman, penyakit, maupun bahaya. Islam tidak mengajarkan seseorang mencari-cari penderitaan.
Namun, ketika musibah sudah terjadi, seorang mukmin hendaknya meyakini bahwa semua itu tidak pernah sia-sia.
"Saat sudah ditimpakan, dia mengerti bahwasanya ini tidak cuma-cuma di hadapan Allah karena dia orang beriman," jelasnya.
Dalam penjelasannya, Buya Yahya mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa seluruh urusan orang beriman pada hakikatnya adalah kebaikan.
"Mengherankan urusan orang yang beriman. Segala urusannya baik. Jika mendapat nikmat dia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika mendapat musibah lalu dia bersabar, maka itu juga baik baginya," terang Buya Yahya.
Salah satu bagian penting dari ceramah Buya Yahya adalah penjelasan mengenai alasan mengapa Allah memberikan cobaan kepada orang-orang yang dicintai-Nya.
Ia mengutip sebuah hadis yang berbunyi:
"Innallaha idza ahabba 'abdan ibtalah. Allah kalau mencintai seorang hamba akan diuji untuk diangkat derajatnya."
Buya juga menjelaskan bahwa ketika seorang mukmin mendapatkan musibah, setidaknya ada tiga kemungkinan hikmah yang Allah kehendaki.
Pertama, Allah ingin menghapus dosa-dosanya.
"Pantang Allah menyiksa hambanya dua kali," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dosa yang telah dibersihkan melalui ujian di dunia tidak akan kembali dibalas dengan hukuman yang sama di akhirat.
Kedua, Allah ingin mengangkat derajat seorang hamba.
"Dia orang biasa di dunia, tapi ingin didudukkan bersama imam-imam besar dan orang-orang saleh, maka Allah memberinya ujian untuk menaikkan derajatnya," jelas Buya Yahya.
Ketiga, Allah menyiapkan pahala yang sangat besar bagi orang yang mampu bersabar.
Menurutnya, pahala kesabaran memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan amalan lainnya.
"Kalau urusan kesabaran, pahalanya seolah Allah berkata, 'Kamu minta apa saja wahai hamba-Ku'," katanya.
Meski demikian, Buya Yahya mengingatkan bahwa Islam tidak pernah mengajarkan seseorang meminta penyakit atau musibah.
"Kita tidak boleh berdoa meminta sakit atau meminta ujian. Yang diajarkan adalah meminta kebaikan dunia dan akhirat," tegasnya.
Dalam ceramahnya, Buya Yahya juga menekankan bahwa korban kezaliman tetap berhak memperjuangkan haknya melalui jalur yang benar. Akan tetapi, perjuangan tersebut tidak boleh dilandasi rasa dendam.
"Menuntut hak adalah sah, tetapi tidak boleh dengan dendam, caci maki, apalagi memfitnah," katanya.
Di akhir ceramahnya, Buya mengingatkan agar setiap orang berhati-hati dalam memperlakukan sesama. Sebab, doa orang yang dizalimi memiliki kedudukan yang sangat kuat di sisi Allah.
"Orang berbuat zalim adalah orang yang mencari kehancuran," tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa seseorang yang menyakiti orang lain sesungguhnya sedang membuka pintu kebinasaan bagi dirinya sendiri karena doa orang yang terzalimi sangat mudah dikabulkan oleh Allah SWT.
Karena itu, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk lebih memilih menjadi pribadi yang sabar daripada menjadi pelaku kezaliman. Bagi orang beriman, setiap ujian yang dihadapi dengan ikhlas bukan sekadar penderitaan, melainkan kesempatan untuk mendapatkan ampunan dosa, kenaikan derajat, serta pahala yang tidak terhingga di sisi Allah SWT.