Khutbah Jumat: Pentingnya Memiliki Pemimpin Menjunjung Adab

Khutbah Jum'at.
Sumber :
  • U-Report

Jakarta, VIVA –Peradaban tinggi, kesejahteraan warga dan akhlak yang mulia adalah sebuah  garis lurus yang harus diikuti hika sebuah bangsa ini meraih kejayaannya. Untuk mewujudkan itu semua peran pemimpin sangat penting, apalagi pemimpin di negara demokrasi yang pemilihan dan pertanggungjawabannya jelas harus dilakukan setiap lima tahun sekali. Teks Khutbah Jumat kali ini ingin membahas pentingnya memiliki pemimpin yang menjunjung adab, berakhlak mulia untuk pembangunan bangsa. 

img_title Amalkan Doa Setelah Subuh dan Maghrib Sesuai Sunnah Rasulullah, Mohon Perlindungan Allah dari Siksa Neraka

Berukut Khutbah Jumat lengkap berjudul pentingnya pemimpin berakhlak mulia. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melihat kemajuan masyarakat cara termudahnya adalah melihat pemimpinnya. Karena kemajuan bangsa dan akhlak pemimpin yang mulia adalah sebuah tarikan nafas. Artinya, tidk bisa tidak, tanpa pengecualian, mewujudkan masyarakat dan bangsa yang berakhlak mulia dengan peradaban yang tinggi, diperlukan pemimpin dengan akhlak yang mulia. Satu hal yang harus disadari bahwa akhlak mulia itu bermula dari keimanan yang benar kepada Allah swt.

img_title Bekal Selamat Dunia Akhirat, Rutinkan Bacaan Doa Ajaran Rasulullah Menjelang Akhir Shalat

Salah satu referensi soal akhlak mulia seorang pemimpin dalam sejarah Islam yang bisa kita tiru adalah pidato pertama Khalifah Abu Bakar Ash Shiddik. Saat memulai tugas memimpin, dengan monumental, beliau mengemukakan tujuh akhlak seorang pemimpin.

اَيُّهَاالنَّاسُ قَدْ وُلِّيْتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ

img_title Rutinkan Amalan Doa yang Diajarkan Rasulullah SAW, Bacalah Agar Dijauhkan dari Api Neraka

Wahai sekalian manusia, kalian telah sepakat memilihku sebagai pemimpin (khalifah) untuk memimpinmu. Aku ini bukanlah yang terbaik diantara kamu.

Dalam pidatonya, Khalifah Abu Bakar menyebut akhlah mulia seorang pemimpin yang pertama adalah tawadhu, sikap rendah hati, tidak merasa sebagai orang yang paling baik, apalagi menganggap sebagai satu-satunya orang yang baik. 

Pentingnya sikap tawadhu bagi seorang pemimpin karena seorang pemimpin membutuhkan nasihat, masukan, saran, bahkan kritik. Kalau ia memiliki sifat sombong, jangankan kritik, saran dan nasihatpun tidak mau diterimanya.

Sejarah Fir’aun bisa menjadi pembelajaran, bagaiana raja yang begitu berkuasa dimata rakyatnya, tapi berhasil ditumbangkan dengan penuh kehinaan melalui dakwah yang dilakukan oleh Nabi Musa dan Harun as.

Sifat tawadhu membuat seseorang terangkat derajatnya, Rasulullah saw bersabda:

التَّوَاضَعُ لاَ يَزِيْدُ إِلاَّ رِفْعَةً  فَتَوَاضَعُوْا يَرْفَعْكُمُ اللهُ

Tawadhu, tidak ada yang bertambah bagi seorang hamba kecuali ketinggian (derajatnya). Oleh sebab itu tawadhulah kamu, niscaya Allah akan meninggikan (derajat)mu (HR. Dailam).

 Akhlak pemimpin yang Kedua adalah Menjalin Kerjasama. Dalam pidatonya, Khalifah Abu Bakar mengatakaan:

وَاِنْ اَحْسَنْتُ فَأَعِيْنُوْنِى

Bila aku berlaku baik, bantulah aku”.

Salah satu kunci keberhasilan adalah Kerjasama. Kerjasama yang harus dijalin antar pemimpin dengan rakyat adalah kerjasama dalam kebaikan dan taqwa sebagaimana yang ditentukan Allah swt dalam firman-Nya:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى الاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan (QS Al Maidah [5]:2).

Dalam sejarah Islam, bahkan dalam suatu peperangan yang kemudian disebut dengan perang Khandak, Rasulullah saw menerima dan melaksanakan pendapat Salman Al Farisi untuk mengatur strategi perang dengan cara menggali parit.

 Kaum Muslimin Rahimakumullah

Akhlak Ketiga seorang pemimpin adalah senantiasa mengharap Kritik Dan Saran. Seorang pemimpin, karena kedudukannya yang tinggi dan mulia dihadapan orang lain, iapun mendapatkan penghormatan dari banyak orang, kemana pergi selalu mendapatkan pengawalan yang ketat dan setiap ucapannya didengar orang, sedangkan apapun yang dilakukannya mendapatkan liputan media massa yang luas. Dari sinilah banyak pemimpin sampai mengkultuskan dirinya sehingga ia tidak suka dengan kritik dan saran. Hal itu ternyata tidak berlaku bagi Khalifah Abu Bakar, maka sejak awal kepemimpinannya, ia minta agar setiap orang mau memberikan kritik dan saran dengan membetulkan setiap kesalahan yang dilakukan, Abu Bakar berpidato dengan kalimat:

وَاِنْ اَسَأْتُ فَقَوِّمُوْنِى

“Bila aku bertindak salah, betulkanlah”.

 
Suatu kali Umar bin Khattab ketika menjadi Khalifah mendapat kritik yang tajam dari seorang ibu yang sudah lanjut usia bernama Shafiyah. Kebijakan itu adalah larangan memberikan mahar atau mas kawin dalam jumlah yang banyak, karena bila tradisi itu terus berkembang hal itu bisa memberatkan para pemuda yang kurang mampu untuk bisa menikah.

Shafiyah mengatakan dengan tegas: “Wahai Khalifah,kami para wanita tidak menuntut laki-laki agar membayar maskawin dengan harga yang mahal, tapi bila mereka mau dan mampu, mengapa harus dihalangi dengan kebijakan itu?.”

Umar kemudian mengatakan: “Ibu ini benar dan Umar salah.”

Jamaah Jumat Yang Berbahagia.

Keempat yang merupakan akhlak seorang pemimpin adalah Berkata Dan Berbuat Yang Benar. Dalam pidato sebagai khalifah, Abu Bakar menyatakan:

اَلصِّدْقُ اَمَانَةٌ وَالْكِذْبُ خِيَانَةٌ.

Berlaku jujur adalah amanah, berlaku bohong adalah khianat.

Manakala seorang pemimpin memiliki kejujuran, maka ia akan dapat memimpin dengan tenang, karena kebohongan akan membuat pelakunya gelisah.

Kelima, akhlak seorang pemimpin adalah Memenuhi Hak Rakyat. Setiap pemimpin harus mampu memenuhi hak-hak rakyat yang dipimpinnya, bahkan bila hak-hak mereka dirampas oleh orang lain, maka seorang pemimpin itu akan berusaha untuk mengembalikan kepadanya. 
اَلضَّعِيْفَ فِيْكُمْ قَوِيٌّ عِنْدِى حَتَّى اُرْجِعَ اِلَيْهِ حَقَّهُ اِنْ شَاءَ اللهُ

“Siapa saja yang lemah diantaramu akan kuat bagiku sampai aku dapat mengembalikan hak-haknya, insya Allah”.

Sidang Jumat Yang Dimuliakan Allah.

Akhlak seorang pemimpin yang Keenam adalah Memberantas Kezaliman. Kezaliman merupakan sikap dan tindakan yang merugikan masyarakat dan meruntuhkan kekuatan suatu bangsa dan negara. Karena itu, para pemimpin tidak boleh membiarkan kezaliman terus berlangsung. Ini berarti, seorang pemimpin bukan hanya tidak boleh bertindak zalim kepada rakyatnya, tapi justeru kezaliman yang dilakukan oleh orang lain kepada rakyatnyapun menjadi tanggungjawabnya untuk diberantas. Karenanya bagi Khalifah Abu Bakar, sekuat apapun atau sebesar apapun pengaruh pelaku kezaliman akan dianggap sebagai kecil dan lemah. Dalam pidato yang mencerminkan akhlak seorang pemimpin, beliau berkata:

وَالْقَوِيُّ مِنْكُمْ ضَعِيْفَ عِنْدِ حَتَّى آخَذُ مِنْهُ اِنْ شَاءَ اللهُ

“Siapa saja yang kuat diantaramu akan lemah berhadapan denganku sampai aku kembalikan hak orang lain yang dipegangnya, insya Allah.”

Ketujuh yang merupakan akhlak seorang pemimpin menurut Khalifah Abu Bakar Ash Shiddik adalah Menunjukkan Ketaatan Kepada Allah swt. Pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang mengarahkan rakyatnya untuk mentaati Allah Swt dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, iapun harus menunjukkan ketaatan yang sesungguhnya. Namun bila seorang pemimpin tidak menunjukkan ketaatannya kepada kepada Allah dan Rasul-Nya, maka rakyatpun tidak memiliki kewajiban untuk taat kepadanya. Dalam kaitan inilah, Khalifah Abu Bakar menyatakan dalam pidatonya:

اَطِيْعُوْنِى مَا اَطَعْتُ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَاِنْ عَصَيْتُ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَلاَطَاعَةَ لِى عَلَيْكُمْ.

“Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila aku tidak taat lagi kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajibanmu untuk taat kepadaku”.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan demikian, jelas ketaatan kepada pemimpin tidak bersifat mutlak sebagaimana mutlaknya ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, inilah diantara isyarat yang bisa kita tangkap dari firman Allah swt yang tidak menyebutkan kata taat saat menyebut ketataan kepada pemimpin (ulil amri) dalam firman-Nya:

يَآءَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُوْلِى اْلأَمْرِ مِنْكُمْ

Paula Verhoeven.

Kiano Diajarkan Tugas Rumah Tangga, Paula Verhoeven Kaitkan dengan Teladan Rasulullah

Paula Verhoeven kembali membagikan cerita mengenai pola asuh yang diterapkannya kepada anak-anak. Kali ini, model tersebut memperlihatkan cara sederhana yang dilakukannya

img_title
VIVA.co.id
19 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut