Kisah Mikaila Patritz Pindah Agama di Usia 9 Tahun Hingga Nikah Muda

Mikaila Patritz
Mikaila Patritz
Sumber :
  • Instagram Mikaila Patritz

VIVA Showbiz – Mikaila Patritz menikah di usia yang terbilang cukup muda yakni 18 tahun, atau setahun setelah lulus jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Diakui istri Muhammad Fardhan itu, perihnya jalan hidup yang dijalani semasa kecil dengan minimnya sosok sang ayah, membuat ia bertekad kuat untuk menikah dan memiliki anak di usia muda.

Dalam Kampanye #SpeakUpforLove oleh Close Up, Mikaila blak-blakan menuturkan keinginan untuk menikah muda usai lulus sekolah. Rupanya, hal tersebut bermula dari kehidupannya yang melihat sosok ibunda sebagai single parent dan melihat kerasnya perjuangan untuk bisa bertahan hidup.

"Aku dilahirkan dengan kondisi dia sendirian sebagai ibu, single parent. Aku rasain ibu nggak bisa jalanin semua rumah tangga. Terpaksa, umur 8 tahun aku harus bisa ikut sederajat dengan mama," ujar pemain Ganteng-Ganteng Serigala, di Jakarta, Selasa 9 Agustus 2022.

Menurut ibu satu anak ini, sang ibu memintanya bisa membantu kehidupan mereka berdua tanpa bantuan ayah kandungnya. Selain itu, di mata Mikaila, ibunda tercintanya sudah bersusah payah untuk bisa menghidupi dirinya seorang diri agar mampu hidup dengan layak.

"Nggak lama, dia (mama) nikah lagi, tapi nggak tahan lama, cuma setahun. Ada adik saya juga, jadi aku harus bantu membesarkannya, di usia aku 9 tahun untuk diminta dewasa," ujar pemain Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Memasuki usia 10 tahun, Mikaila bahkan sempat berdiskusi dengan anggota keluarga lainnya hingga memutuskan untuk pindah agama. Menurut Mikaila, kehidupan yang membuatnya bisa berpikir lebih dewasa dibanding usia aslinya itu memacu untuk memeluk agama lain.

"Umur 9-10 tahun, mendadak ada pemikiran untuk convert. Sempat katolik, pengin pindah ke agama Islam. Dari umur segitu ada pikiran jauh luas. Karena menurut aku, hidup ini susah payahnya," tutur model 26 tahun tersebut.

Tak heran, kehidupannya yang berbeda dibanding anak-anak lainnya membuat Mikaila mendorong diri menjadi sosok yang keras dan ulet. Namun, Mikaila pun tumbuh dengan tekad untuk bisa membangun kehidupan yang baik dengan sosok suami yang mendampingi serta mendidik anak untuk merasakan kebahagiaan yang tak sempat dirasakannya.

"Aku push diri aku karena nggak mau susah payah seperti mama dan nggak mau kasih beban ke anak-anak saya. Mentally, itu beban banget. Aku kangen untuk punya feeling  pengalaman hidup anak kecil yang normal. Karena nggak bisa punya, aku push diri, selesai sekolah, cari suami, punya anak, besarkan anak untuk kasih dia keluarga lengkap dan anak nggak ngerasain yang aku rasain dan hidup seperti anak normal," ujarnya.