Viva.co.id: Berita Hari Ini Terbaru Terkini dan Terpopuler

img_title

Bondan Winarno

seniman
20 April 1950
s/d
29 November 2017
img_title img_title
Dunia wartawan membuka jalan Bondan Winarno ke berbagai profesi pilihannya. Mulai menjadi pengusaha, penulis, hingga host program kuliner di layar kaca.

Bondan Haryo Winarno atau lebih akrab disapa Pak Bondan adalah seorang yang menjajaki dunia wartawan, pengusaha, sekaligus pakar kuliner yang pernah menjadi presenter di acara-acara kuliner televisi. Jargon ‘maknyus’ sangat melekat pada dirinya.
 
Pak Bondan lahir di Surabaya pada 20 April 1950. Sejak kecil, ia sudah mengenal kuliner dari ibunya yang jago masak. Sang ibu sendiri berasal dari Madiun. Bondan kecil juga sangat cerdas dan mudah meraup informasi, dirinya sangat suka membaca bahkan hingga berlangganan majalah.
 
Setelah lulus SMA, ia sempat memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah di bidang sastra. Namun, sang ibu tidak merestui karena menganggap lulusan sastra itu kurang memiliki masa depan cerah. Sehingga ia mengalah dan kuliah di Fakultas Teknik Arsitektur, Universitas Diponegoro, Semarang.
 
Meski kuliahnya belum selesai, ia sudah berprofesi sebagai fotografer Puspen Hankam di Jakarta. Setelah itu, Bondan sering berpindah-pindah kerja meski lingkup pekerjaannya sendiri tidak jauh-jauh dari media massa. Ia pernah menjadi wartawan hingga mendapat dinas luar negeri ke Kenya, Afrika.
 
Pengalamannya di Kenya, Afrika dituangkannya dalam sebuah carpen bertajuk Gzelle. Cerpennya tersebut memenangkan lomba cerpen di Femina pada tahun 1984. Pak Bondan menemukan jiwanya sendiri saat menulis. Bahkan, ia mampu menulis di mana pun ia berada.
 
Karier Bondan pun semakin menanjak. Suami dari Yvonne Winarno ini didapuk sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Ekonomi Swa pada tahun 1985. Selang dua tahun menjabat, karena sang anak, Gwen berkeinginan meneruskan pendidikannya ke Negeri Paman Sam sementara gajinya belum mencukupi, ia berinisiatif menjadi pengusaha.
 
Seorang pengusaha muda bernama Sutrisno Bachir, saat itu, memberikan kesempatan pada Pak Bondan. Perjanjian bisnis di Jepang pun berhasil dikuasai olehnya. Sehingga Pak Bondan pun berkesempatan mengepalai cabang perusahaan olahan makanan laut di Amerika Serikat.

Namun, setelah berkutat lama dengan dunia bisnis, pada tahun 1994 Pak Bondan yang sempat tinggal di Los Angeles dan Seattle ini pun memutuskan kembali ke tanah air membawa anaknya, Gwen. Ia pun kembali menekuni jalur yang sebelumnya ditinggalkan yaitu, jurnalistik.

Ayah 3 anak ini pun bekerja di Penerbit Geolink, sebuah perusahaan milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Selain itu, Pak Bondan juga menjadi penulis cerpen untuk Kompas dan Matra. Ditambah lagi, ia pun dipercaya sebagai Editor Asian Wall Street Journal, Far Eastern Economic Review, Jakarta Post, Kompas, Bisnis Indonesia.

Pada tahun 1998, Pak Bondan didapuk sebagai Penasehat pribadi Menteri Informasi RI dan Staf Bank Dunia. Ia juga masih berkutat dengan dunia tulis-menulis dengan menjadi kolumnis Kontan dan Swa.

Pak Bondan banyak terlibat di berbagai media massa termasuk media online. Salah satu karyanya berjudul Bre-X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi berhasil sukses di pasaran. Namun, tulisan yang dibukukan itu terpaksa ditarik setelah Pak Bondan ditegur oleh salah satu pejabat.
 
Pria yang pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan ini pun memutuskan banting stir dari dunianya sebagai jurnalis dan juga pengusaha. Tekad itu lahir setelah kepergian ayah dan kakaknya. Pak Bondan pun hijrah ke dunia kuliner dengan alasan keseimbangan hidup.

Pada tahun 2005, Pak Bondan dipinang PT. Unilever. Ia didapuk sebagai presenter acara Bango Cita Rasa Nusantara yang bertujuan untuk memomulerkan masakan-masakan khas nusantara.

Di sinilah, jargon ‘maknyus’ mulai dikenal masyarakat. Setiap kali mencicipi kuliner, ia selalu memberikan peninalian dengan mengucapkan "maknyus" sambil memberikan lingkaran jarinya di depan bibirnya. Meski begitu, Pak Bondan tidak mengakui kata ‘maknyus’ itu sebagai trade-mark miliknya. Ia sendiri mengaku meminjam ungkapan itu dari Umar Kayam yang sering melontarkan kata itu saat menikmati makanan di hadapannya.

Setelah itu, Pak Bondan pun dipercaya sebagai presenter Wisata Kuliner yang tayang di Trans TV. Para kru yang bertugas pun mengakui, meski ia telah menjadi selebriti, ia tetap professional dengan profesi barunya.

Bahkan, ia sudah memiliki banyak fans. Namun lagi-lagi, saat dirinya tengah berada di puncak kariernya sebagai presenter wisata kuliner, Pak Bondan memutuskan untuk mundur. Pak Bondan ingin menghabiskan waktu dengan keluarganya dan berwisata ke penjuru daerah.

Selain kehidupan profesionalnya, Pak Bondan juga aktif dalam kegiatan sosial. Ia pernah menjabat sebagai ketua Indonesia Forum pada 1998, sebuah komunitas yang bertujuan untuk memulihkan Indonesia dari keadaan kritis.

Atas dedikasinya, Pak Bondan mendapatkan tanda penghargaan dari Baden Powell Adventure Award dari lembaga pramuka dunia (1967), Satyalencana Pembangunan dari pemerintah RI (1988), Gelar Kanjeng Raden Haryo Mangkudiningrat dari PB XII (2001), dan Gelar Kanjeng Pangeran dari PB XIII (2006).

Setelah lama tak muncul di televisi, publik dikagetkan dengan kabar meninggalnya Pak Bondan di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, 29 November 2017, karena mengalami gagal jantung. Ia meninggal pada usia 67 tahun. Selamat jalan Pak Bondan. (AC/DN) (Photo: Facebook Ubud Writers & Readers Festival)
 
KELUARGA
Istri        : Yvonne Winarno
Anak     : Gwendolin Amalia Winarno
               Marisol Winarno
               Eliseo Winarno
 
PENDIDIKAN
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Semarang (tidak selesai, 1970)
Kursus Marketing & Financial Management, Jakarta (1975)
 
KARIER
Sekretaris Jenderal International Advertising Association (1981-1986)
Pimred Majalah Swa (1985-1987)
Presiden Mitra Inc (1989-1991)
Presiden Ocean Beauty International (1991-1994)
Penerbit Globalink (1994-1998)
Penulis cerpen untuk Kompas dan Matra (1994-1998)
Editor Asian Wall Street Journal, Far Eastern Economic Review, Jakarta Post, Kompas, Bisnis Indonesia (1994-1998)
Penulis profil Telkom, Indosat, freeport, dan Petrokimia Gresik (1994-1998)
Kolumnis Kontan dan Swa (1994-1998)
Penasehat pribadi Menteri Informasi RI (1998)
Staf Bank Dunia (1998)
Ketua Indonesia Forum (1998)
Salah satu pendiri Komite Kemanusiaan Indonesia (1998)
Salah satu pendiri Masyarakat Transparansi Indonesia (1998)
Direktur Eksekutif Yayasan Pusaka Alam Nusantara (1999-2001)
Pimred Suara Pembaruan (2001-2003)
Pendiri Yayasan Karaton Surakarta (2002)
Komisaris independen Detik.Com (2004)
Wartawan senior Suara Pembaruan (2004)
Presenter acara kuliner (2004-2017)

Berita Terkait
Obrolan dengan Pak Bondan saat Makan Malam di Utrecht

Obrolan dengan Pak Bondan saat Makan Malam di Utrecht

Entertainment

4 Desember 2017
Bondan Winarno: Banyak Orang Indonesia Salah Pilih Beras

Bondan Winarno: Banyak Orang Indonesia Salah Pilih Beras

Kuliner

1 Oktober 2015
Bondan: Di TV Makan Enak, di Rumah Saya Makan Kayak Gembel

Bondan: Di TV Makan Enak, di Rumah Saya Makan Kayak Gembel

Kuliner

24 April 2015
Bondan Winarno Prihatin soal Kuliner Tradisional Indonesia

Bondan Winarno Prihatin soal Kuliner Tradisional Indonesia

Kuliner

24 April 2015
"Jangan Marah Kalau Kuliner Indonesia  Diklaim Malaysia"

"Jangan Marah Kalau Kuliner Indonesia Diklaim Malaysia"

Kuliner

24 April 2015
Penyesalan Bondan Winarno Soal Kata "Maknyus"

Penyesalan Bondan Winarno Soal Kata "Maknyus"

Arsip

17 Maret 2014
Bondan Winarno: Saya Caleg Dhuafa

Bondan Winarno: Saya Caleg Dhuafa

Arsip

12 Maret 2014
Share :