Ini Langkah Kementan Kendalikan Harga Telur

Harga Telur Ayam Naik
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

VIVA – Setelah melakukan pembahasan khusus dengan sejumlah pemangku kepentingan (stakeholder) Badan Ketahanan Pangan dan Direktorat Jenderal  Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjend PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan beberapa hal terkait mahalnya harga telur ayam ras belakangan ini.

img_title Harga Beras dan Telur hingga Daging Ayam Kompak Menurun, Cek Daftar Komoditas Lainnya

Faktor-faktor penyebab kenaikan harga telur dan juga daging ayam ras pasca lebaran di antaranya, terjadi lonjakan kebutuhan telur secara nasional terkait beberapa program pengadaan telur langsung untuk masyarakat miskin dan KJP DKI.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Faktor kedua, bagusnya harga daging ayam pada saat lebaran, sehingga banyak peternak melakukan afkir dini ayam petelur/layer untuk dijual dagingnya. Ketiga, setelah pelarangan penggunaan Antibiotic Growth Promoters (AGP) dan Ractopamine dalam pakan ternak, harga telur dan daging ayam menjadi mahal karena telur zero residu AGP.

img_title Harga Telur dan Daging Sapi hingga Minyak Goreng Makin Melonjak, Cek Daftar Komoditas Lainnya

Penggunaan AGP pada ternak dikhawatirkan menimbulkan resistensi bagi orang yang mengkonsumsi daging atau telur.

“Pengaruh yang cukup signifikan sebenarnya bukan pada pelarangan AGP, karena peternak sudah banyak melakukan substitusi sebagai pengganti pemakaian AGP. Menurut peternak layer, justru penyakit koksi yang terbesar pengaruhnya dalam menurunkan produksi,” jelas Diarmita.

img_title Harga Beras dan Telur Ayam hingga Cabai Kembali Melonjak, Cek Daftar Lengkap Komoditasnya

Diarmita melanjutkan, faktor keempat adalah adanya permintaan telur yang meningkat karena adanya acara hajatan/pesta dan liburan panjang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Aspirasi Peternak Ayam Broiler
Khusus mengenai pelarangan penggunaan AGP, kalangan pelaku usaha peternakan ayam potong menyampaikan beberapa usulan kepada Kementerian Pertanian, agar aturan ini hanya diberlakukan di tingkat budidaya F-1 (finalstock), atau pakan untuk peternakan. Karena hasil daging di tingkat F-1 inilah yang akan dikonsumsi langsung oleh masyarakat dan akan mengurangi residu antibiotik yg ada (aman).

"Tapi kalau pelarangan AGP ini diberlakukan juga di tingkat budidaya grand parent stock (GPS) dan parent stock (PS), maka secara langsung akan memengaruhi dua hal dalam budidaya broiler. Pertama, performa di tingkat induk yang kurang bagus, sehingga anak ayam (Day Old Chicken/DOC) yang dihasilkan menjadi tidak optimal dan akhirnya menaikkan HPP DOC dari ternak pembiakan (breeding farm),” jelas Parjuni dari Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Parsuni) Jawa Tengah.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut