Dugaan Penggelapan & Pemalsuan Akta, Suko Sudarso Dilaporkan ke Polisi

Suko Sudarso
Suko Sudarso
Sumber :
  • id.wikipedia.org

VIVA – Tokoh aktivis kawakan Suko Sudarso (80 tahun) dan putranya Wisnu Permadi (45 tahun) kembali dilaporkan ke Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya karena dugaan tindak pidana penggelapan/ penggelapan dalam jabatan dan pemalsuan akta autentik sesuai Pasal 374 jo 372 dan 266 jo 264 KUH Pidana, Kamis (20/1).

Ketua Aliran Kepercayaan Sumarah dan putranya itu dilaporkan kepada Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya oleh advokat Raden Nuh SH dan Rudy Gunawan SH, kuasa hukum dari ahli waris Ir. Harsino selaku korban dikarenakan Suko Sudarso dan putranya Wisnu Permadi menolak mediasi yang difasilitasi Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (19/1).

“Kami kuasa hukum korban, terpaksa menempuh jalur pidana karena upaya mediasi di PN Jakarta Selatan gagal. Beliau melalui suratnya menyatakan menolak mengikuti proses mediasi. Mengingat unsur pidana telah terpenuhi dan cukup alat bukti dalam dugaan pidana, kami optimis perkara akan ditangani hingga tuntas oleh penyidik,” ujar Raden Nuh SH, menjelaskan kepada media, usai melaporkan Suko Sudarso, Wisnu Permadi Dan Kawan-kawan (DKk) kepada Polda Metro Jaya, di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan, hari Kamis (20/1).

Dugaan pidana penggelapan saham dan pemalsuan akta autentik oleh Suko Sudarso DKK, berawal dari meninggalnya Ir. Harsono, Direktur PT. Makmur Mulia Perkasa (MMP) pada 14 April 2018 lalu, tambah Raden Nuh menjelaskan duduk permasalahannya.

Di samping selaku direktur, almarhum Ir. Harsono juga pemilik 63 lembar saham atau 25 persen saham dalam perseroan. Sementara terlapor, Suko Sudarso adalah komisaris di PT. Mulia Makmur Perkasa (MMP), perusahaan pertambangan nikel yang memiliki konsesi tambang seluas 2.450 hektar di Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara.

Setelah kematian Ir. Harsono, selama tiga tahun terakhir operasional MMP yang berkantor di Menara Karya Lantai 21, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan itu berhenti total dikarenakan tidak ada direktur pengganti. Sementara Suko Sudarso selaku komisaris MMP tidak melakukan upaya apa pun untuk menyelamatkan perusahaan.

Sebaliknya yang terjadi, Suko Sudarso selama kurun waktu tahun 2018 hingga tahun 2020 melakukan perubahan akta perseroan secara tidak sah dan melanggar hukum, di mana dalam akta-akta Pernyataan/ Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT. Mulia Makmur Perkasa dinyatakan penunjukan Edi Mardiyanto - keponakan Suko Sudarso sebagai direktur perusahaan. Dalam akta pernyataan RUPSLB disebutkan dihadiri oleh Ir. Harsono, yang pada faktanya telah meninggal dunia.