Industri Hilir Sawit Siap Menuju Net Zero Emission
- Kemenperin
“Oleh karena itu, kami mengharapkan para pelaku usaha industri dapat berkolaborasi dengan para pelaku riset/inovasi pengembang teknologi dalam negeri untuk mengkomunikasikan benefit program hilirisasi industri, termasuk program mandatory biodiesel 35% (B35) ini terhadap upaya dekarbonisasi nasional. Hal ini untuk mendukung aspek pro-environment pada industri hilir kelapa sawit,” jelas Putu.
Strategi konkret program dekarbonisasi untuk mencapai Net Zero Emission di sektor industri kelapa sawit berikutnya adalah menginjeksi teknologi produk/proses produksi yang ramah emisi GRK. Kementerian Perindustrian sedang menginisiasi introduksi teknologi baru produksi Minyak Sawit Mentah tanpa perebusan (sterilisasi) dengan metode SPOT (Steamless Palm Oil Technology). Penurunan emisi GRK berasal dari penggunaan steam yang lebih hemat, nihil limbah cair POME, dan efisiensi proses produksi komprehensif dan intensif.
“SPOT mampu menurunkan emisi GRK sekitar 20,84% dari pabrik kelapa sawit (PKS) konvensional berkapasitas sama, yaitu 1.296,1 kgCO2 eq/ton CPO pada PKS biasa menjadi 1.026,4 kgCO2 eq/ton produk PMO (Palm Mesocarp Oil),” papar Putu.
Kemenperin mengapresiasi Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dalam mendukung beberapa kegiatan riset yang relevan dengan upaya dekarbonisasi nasional dalam rangka mencapai Net Zero Emission. Hal ini sejalan dengan target yang telah ditetapkan Menteri Perindustrian bahwa NZE sektor industri dapat tercapai pada tahun 2050, atau 10 tahun lebih awal dari target yang ditentukan yaitu pada tahun 2060.
“Kami mengharapkan agar topik riset tersebut dapat berkelanjutan untuk mencapai target Net Zero Emission yang telah ditetapkan,” tutup Putu.