Saatnya Menata Sepak Bola Kita

Pemain Timnas Indonesia
Sumber :
  • Twitter @timnasindonesia

(Artikel ini ditulis oleh Ecep Suwardaniyasa, Pemimpin Redaksi tvOnenews.com & VIVA.co.id)

img_title Real Madrid Sampai Puji Emil Audero, 7 Penyelamatan Gemilang di Bernabeu

VIVA – Sepak Bola tak pernah selesai setelah peluit ditiup wasit sesudah 2x45 menit yang melelahkan itu. Di lapangan hijau pemain mungkin sudah saling bertukar kaos tim, saling peluk, memperagakan moralitas, bagian yang indah dari olahraga ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tetapi sepak bola selalu bisa lebih dari itu semua. Keindahan sepak bola—kenapa saya selalu ingin menontonnya setiap kali Timnas bermain—barangkali bukan semata pada permainan itu sendiri, tapi pada tangis dan tawa setelahnya.

img_title Timnas Indonesia Dapat Kabar Baik, Raja Asia Tenggara Dihantam Masalah Besar Jelang FIFA ASEAN Cup 2026

Kini, setelah kekalahan di semua ajang tandang di bawah tim kepelatihan Patrick Kluivert (pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia), harapan pudar dan mimpi redup. Kita pun mulai insaf: “tak ada yang instan” dalam sepak bola. Sepak bola bukan panggung sulap, juga bukan lapak pedagang obat jalanan.

img_title 4 Pemain yang Terancam Absen Bela Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Kita pernah berharap, tapi entah pada siapa. Barangkali pada kekuasaan federasi yang duduk—dengan keputusan yang tergesa-gesa itu. Ketua federasi, Erick Thohir tiba-tiba memecat pelatih Shin Tae-yong di tengah jalan. Alasannya seperti kabut: tidak jelas dan menutup semua pandangan. 

Padahal sepak bola, seperti juga revolusi, membutuhkan waktu dan kesabaran. Bukan hanya strategi, tapi ketenangan membiarkan proses berjalan meski hasil belum tampak.

Di saat terpuruk, yang selalu saya sukai adalah renungan, kontemplasi mulai muncul, dan otokritik akan lebih substansial. Kini ada suara-suara keras untuk mengevaluasi tak hanya menimbang kembali posisi pelatih, tetapi juga bagaimana arah pembangunan sepak bola Indonesia ke depan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketika tim pelatih sudah kembali ke negerinya, kita lalu berhadapan lagi dengan diri sendiri. Apakah energi besar bangsa ini hanya melulu berkutat pada Timnas? Apakah pembangunan sepak bola hanya melulu soal Timnas? Atau, apa yang mesti kita buat untuk membenahi yang lebih mendasar dan penting dalam pembinaan sepak bola nasional agar wajah Timnas kita di masa depan lebih baik?

Kaca benggala itu kini muncul dengan jernih. Publik sepak bola nasional diminta berkaca, apa arti “nasional” dalam tim nasional kita? Meski dibolehkan secara aturan, apakah dominasi suatu negara di Timnas kita sebuah “langkah yang baik” untuk pembangunan sepak bola nasional. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut