PB Akuatik Buka Jalan Diaspora Bela Indonesia
- Instagram @akuatikindo
Namun, PB Akuatik tidak ingin menjadikan status diaspora sebagai tiket otomatis menuju tim nasional. Prestasi dan kualitas tetap menjadi ukuran utama karena persaingan untuk masuk ke skuad Indonesia juga harus mempertimbangkan kemampuan atlet yang selama ini berkembang di dalam negeri.
"Kami tidak mencari diaspora hanya karena mereka berada di luar negeri. Prestasinya harus menjanjikan," tegas Wisnu.
Artinya, kebijakan dwi kewarganegaraan terbatas yang tengah diwacanakan pemerintah berpotensi membuka jalur baru bagi Indonesia, tetapi implementasinya tetap membutuhkan penyaringan yang ketat. Atlet diaspora yang diproyeksikan harus memiliki kemampuan untuk bersaing dan memberikan dampak nyata pada ajang seperti SEA Games, Asian Games hingga Olimpiade.
Pendekatan tersebut juga membedakan pencarian atlet diaspora dengan program naturalisasi atlet asing. PB Akuatik untuk sementara lebih memilih menggali potensi dari atlet yang memiliki hubungan darah dengan Indonesia.
"Untuk saat ini kami masih mencari mereka yang memiliki darah Indonesia," kata Wisnu.
Menurutnya, masih terbuka kemungkinan terdapat talenta lain yang memiliki darah Indonesia tetapi belum teridentifikasi atau belum mendapatkan kesempatan untuk membela Merah Putih.
Di sisi lain, kebijakan tersebut tetap harus ditempatkan secara proporsional. Indonesia tidak bisa mengabaikan pembinaan atlet yang berkembang di dalam negeri hanya demi mengejar talenta dari luar negeri. Jika kualitas seorang diaspora belum mampu melampaui atau setidaknya menyamai atlet nasional yang tersedia, maka pemanggilannya ke tim Indonesia tentu harus dipertimbangkan lagi.
Wacana dwi kewarganegaraan terbatas sebelumnya muncul dalam pembahasan revisi Undang-Undang Kewarganegaraan. Pemerintah mengusulkan konsep tersebut untuk mengakomodasi diaspora yang memiliki keahlian maupun talenta yang dibutuhkan Indonesia.
Dalam konteks olahraga, kebijakan itu berpotensi memberikan pilihan baru bagi federasi untuk menjangkau atlet berdarah Indonesia yang sejak kecil menjalani pembinaan di negara lain. PB Akuatik kini tinggal menunggu bagaimana aturan tersebut dirumuskan dan sejauh mana ruang yang diberikan kepada cabang olahraga untuk memanfaatkannya. (Ant)