Tutty Alawiyah
- anataranews.com
Saat usianya 10 tahun, Tutty yang sudah mampu mengetik dengan kecepatan 260 ketukan per menit ini memberikan kursus membaca dan menulis huruf latin kepada beberapa wanita di daerah Pancoran, Jakarta. Seminggu dua kali, Tutty ditemani Dahlia sepupunya, bersepeda bonceng-membonceng ke rumah Ibu Halimah untuk mengajar dan mendapat upah beberapa rupiah yang kemudian mereka bagi dua.
Pengalamannya memberikan kursus, pada usia 13 tahun mampu mengajar secara tetap dengan membuka 3 kursus yaitu Kursus Banat As-Syafi'iyah, diisi dengan pelajaran agama, pelajaran Maulid Nabi, dan membaca Alquran, dengan murid 200 orang lebih. Kursus Umahat As-Syafi'iyah, khusus untuk ibu-ibu yang ingin mendalami agama, dengan murid 100 orang (2 kelas) dan yang terakhir, Kursus Tilawatil Quran yang diikuti 40 orang. Kursus ini terus berlanjut hingga 1980
Tiga tahun kemudian, kakaknya H. Muhibbah meninggal dunia. Sejak saat itu, ia dipercaya secara penuh memimpin Majelis Taklim Kaum Ibu As-Syafi'iyah dan melanjutkan pengajian setiap Sabtu pagi di Masjid Al Barkah.
Cita-cita Tutty pada akhirnya tercapai. Sang ayah melihat bakat Tutty dalam berpidato, membaca Alquran, dan mendendangkan lagu-lagu qasidah akhirnya mengajak Tutty berdakwah di Singapura dan Malaysia tahun 1959.Â
Di Singapura ia dipercaya oleh Bapak Sugih Arto, Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk berceramah di depan masyarakat Indonesia yang datang lebih dari 500 orang.Â
Saat berceramah di Singapura, ia mendapat pengalaman pertama yang tak terlupakan, terpaksa berceramah tanpa teks karena naskahnya ketinggalan. Sejak saat itu setiap ceramah tidak lagi menggunakan catatan tertulis yang baku, kecuali dalam seminar atau pidato resmi. Kaset-kasetnya mulai banyak beredar di toko-toko kaset Singapura. Bahkan ada pula yang menamai anaknya dengan nama Tutty Alawiyah dan Abdullah Syafi'ie.
Saat menginjak umur 18 tahun, Tutty menikah dengan Ahmad Chatib Naseh dan dikaruniai 5 orang putra-putri. Walaupun masih duduk di bangku SMA dengan kesibukan yang bertumpuk, Tutty dapat mengurus keluarganya, seperti layaknya ibu rumah tangga lainnya dan berhasil meraih kesarjanaan dari Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sang ayah meninggal pada 3 November 1985, Saat itu, seluruh masyarakat As-Syafi'iyah, masyarakat aktor, Seniman Betawi, seluruh jamaah, pelajar dan pendengar setia radio berkabung.Â