Menu Makan Bergizi Gratis Berubah Jadi Makanan Instan saat Ramadan, Masihkah Bergizi Menurut Dokter?

Makan Bergizi Gratis saat Ramadan
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta, VIVA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan di media sosial, kali ini terkait perubahan menu saat Ramadan yang beralih ke makanan instan.

img_title Praperadilan Ditolak, Eks Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung Tetap Berstatus Tersangka

Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan paket MBG yang berbeda dari biasanya, di mana makanan instan seperti biskuit, roti, dan sereal menggantikan menu bergizi seimbang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Akun X @barengwarga turut mengangkat isu ini melalui tagar #AwasiMBGRamadhan, membagikan potret makanan instan yang dibagikan selama bulan puasa.

img_title Prabowo: Saya Bertekad Teruskan Program MBG, Tapi...

Dalam unggahan tersebut, terlihat paket makanan yang berisi satu sampai dua produk instan, dilengkapi telur rebus, dua sampai tiga buah kurma, susu kemasan, serta buah seperti jeruk atau salak.

Pergantian menu ini diklaim demi kepraktisan, agar makanan dapat dibawa pulang untuk berbuka puasa. Namun, publik menyoroti aspek gizi yang justru dinilai berkurang drastis. Beberapa netizen mengkritik keras keputusan ini, menilai makanan tersebut tidak mencerminkan konsep "bergizi" yang dijanjikan.

img_title Prabowo: Orang yang Korupsi MBG Ini Biadab!

"Kata gua mending label 'bergizi' nggak usah dipake kalo makanannya kaya gini. Ini rata-rata udah keliatan tinggi gula, seratnya rendah, nggak bergizi seimbang," tulis seorang pengguna X.

Tak hanya soal kandungan nutrisi, biaya yang rendah juga menjadi perhatian. Publik memperkirakan nilai makanan tersebut kurang dari Rp 10 ribu per paket, jauh dari ekspektasi anggaran yang diberitakan sebelumnya.

Kritik MBG dari Dokter

Keputusan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengganti menu MBG dengan makanan instan memicu kekhawatiran para ahli. dr. Tan Shot Yen, dokter sekaligus pakar gizi masyarakat, menyebut kebijakan ini dapat membingungkan persepsi anak-anak tentang makanan sehat.

"Jika produk ultra proses dibagi di sekolah, anak akan berpikir, oh, ini asupan sehat. Kan diajarkan makan ini. Bahkan bisa jadi pengganti sarapan. Padahal jauh dari janji semula: kearifan lokal," ujar dr. Tan melalui Instagram @drtanshotyen pada Senin 10 Maret 2025.

Menurutnya, publik bisa jadi salah kaprah menganggap makanan instan aman dikonsumsi secara rutin. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan keterkaitan makanan ultra proses dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Program MBG yang awalnya bertujuan memberikan asupan bergizi bagi masyarakat, kini terancam kehilangan esensinya jika pengawasan tidak diperketat.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut