Timeline Kasus yang Menyeret Foodvlogger Codeblu, Mulai dari Sebarkan Hoaks sampai Dituntut Rp5 Miliar
- Istimewa
Jakarta, VIVA – Kasus yang menyeret food vlogger William Anderson, atau yang lebih dikenal sebagai Codeblu, terus berbuntut panjang.
Kasus ini bermula ketika Codeblu mengklaim bahwa toko roti Clairmont mengirimkan kue yang sudah berjamur dan tidak layak konsumsi ke panti asuhan.
Pernyataan dari foodvlogger terkenal ini kemudian menimbulkan kegaduhan di media sosial.
Namun, setelah video tersebut viral dan menjadi sorotan, terungkap bahwa informasi yang disampaikan Codeblu berasal dari seorang mantan karyawan Clairmont yang telah dipecat karena kasus penggelapan dana.
Codeblu
- Tangkapan layar
“Minta maaf kepada brand CT, saya telah menyebarkan berita palsu yang didapat dari sumber yang bermasalah, sehingga mengakibatkan kerugian bagi CT dan masyarakat Indonesia, meresahkan banyak orang,” ujar Codeblu.
“Saya minta maaf sepenuh-penuhnya, dan tidak akan saya ulangi lagi hal yang serupa di masa yang akan datang,” lanjutnya.
1. Manajemen Clairmont Laporkan Codeblu ke Polisi
Polres Metro Jakarta Selatan memeriksa Codeblu terkait laporan toko roti Clairmont atas dugaan pemerasan bermodus review makanan.
"Pemeriksaan pertama sebagai saksi. Pelapornya dari manajemen Clairmont," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Ardian Satrio Utomo, Selasa, 11 Maret 2025.
2. Dugaan Pelanggaran UU ITE dan Ujaran Kebencian
Kasie Humas Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Nurma Dewi, mengatakan bahwa Codeblu telah dilaporkan atas dugaan pelanggaran UU ITE.
"Kemarin, ya, tanggal 11 Maret 2025, kita sudah meminta keterangan dari inisial WA atau alias C. Kemudian berdasarkan LP/B/3861/XII/2024 tanggal 31 Desember 2024, yang melaporkan adalah inisial ASS, terlapor WA (William Anderson) atau C (Codeblu)," ujar Kompol Nurma Dewi, Rabu, 12 Maret 2025.
"Pasal yang diterapkan adalah Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang ITE," tambahnya.
Selain itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya menyebutkan bahwa Codeblu juga terancam dengan pasal ujaran kebencian.
"Apa yang dilaporkan oleh Saudara ASS adalah tentang dugaan peristiwa penyebaran ujaran kebencian atau permusuhan antargolongan, sebagaimana diatur di Pasal 28 Undang-Undang tentang ITE," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi, Sabtu, 15 Maret 2025.