Bekal Menarik di Kajian Sekolah Pranikah

Kajian Sekolah Pranikah
Kajian Sekolah Pranikah
Sumber :

VIVA – Memasuki pertemuan kedua Kajian Sekolah Pranikah (SPN) angkatan 3 mengusung materi yang tak kalah seru dengan materi pekan sebelumnya. Kajian Sekolah Pranikah untuk minggu ini diadakan pada Minggu, 10 Februari 2018 yang berlokasi di Masjid Baitut Taubah, Kompleks  Kantor Wilayah Bea Cukai Tuban, Bali.
 
Kajian dimulai tepat pukul 13.00 WITA usai salat zuhur berjemaah. Sebanyak 20 orang pemuda dan pemudi sudah tampak memadati area masjid sejak 30 menit sebelumnya. Pekan ini, Ustaz Nur Asyur sebagai pembina Kajian Sekolah Pra Nikah mengangkat tema, Bekal Menuju Pernikahan. Dengan gaya penyampaian materi yang serius dan jenaka, para peserta Kajian Pra Nikah tampak larut dalam kelas yang  diadakan selama 2,5 jam ini.

Di awal materi, Ustaz Nur Asyur menceritakan mengenai Kisah Najamuddin dalam mencari pasangan hidup. Najamuddin merupakan panglima perang di Irak dari Bani Abbasiyah. Sang panglima perang ini menunda pernikahan hingga usia 40 tahun. Padahal banyak anak-anak menteri yang ingin dijodohkan oleh sang panglima.
 
Panglima Najamuddin bukan tanpa sebab melajang hingga usia 40 tahun. Ia ingin mencari pendamping hidup yang nantinya mampu bersama-sama dengan dirinya untuk membebaskan bumi Palestina. Obsesi menikah dengan wanita salehah pun tercapai. Dari pernikahannya, lahirlah seorang putra bernama Salahuddin Al Ayubi yang dikemudian hari membebaskan bumi Palestina dari tangan pasukan Salibis.
 
Berbeda dengan Panglima Najamuddin, kisah pencarian pendamping hidup seorang sahabat Rasulullah SAW lebih dramatis. Pemuda bernama Julaibib harus berkali-kali ditolak oleh calon mertua lantaran fisiknya yang tidak tinggi dan warna kulitnya yang gelap.
 
Julaibib merupakan pemuda kepercayaan Rasullullah yang taat beragama dan selalu siap ketika Rasullullah meminta bantuan mengirimkan pesan ke para sahabat-sahabatnya. Sampai pada akhirnya, Julaibib berhasil meminang seorang gadis salehah berkat pesan yang disampaikan oleh Rasulullah untuk calon mertua Julaibib.
 
Dari kisah yang diangkat oleh Ustaz Nur Asyur kepada peserta Kajian Pra Nikah didapatkan kesimpulan, bahwa untuk meminang atau mendapatkan calon pasangan hidup yang baik tidaklah harus memiliki wajah yang rupawan. Namun harus yang memiliki akidah Islam yang kuat. Menikah merupakan ibadah seumur hidup. Maka dari itu, jangan sampai salah memilih pasangan. Pemahaman mengenai agama sangatlah penting, apalagi bila nanti memiliki keturunan.
 
“Menikahi seseorang khususnya seorang pemuda janganlah melihat masa lalunya. Kita akan berdosa apabila kita mencari tahu seperti apa akhlak jahiliyah pasangan di masa lalu,” pesan Ustaz Nur Asyur saat menyampaikan materi.
 
Ustaz Nur Asyur juga menyampaikan kepada para pemuda yang menjadi peserta kajian ini, dalam memilih pasangan hidup. “Carilah wanita yang memiliki empat kriteria seperti mau merawat diri, sanggup dan pandai menjaga kekayaan suami, nasabnya baik, dan pemahaman agama Islamnya bagus,” jelasnya.
 
Menikah merupakan kaderisasi keimanan dan menikah haruslah memiliki ilmu agama. Dalam menikah jangan salah menempatkan prioritas. Prioritas utama adalah bagaimana memenuhi nafkah setelah menikah, bukan malah sebaliknya, bagaimana  menyiapkan dana untuk resepsi pernikahan. Banyak pemuda yang menunda pernikahan karena memikirkan resepsi pernikahan yang  begitu mahal.
 
“Dalam menikah ada beberapa kesiapan yang harus dipenuhi. Seperti kesiapan pemikiran, kesiapan psikologis, kesiapan fisik, dan kesiapan finansial,” ungkap Ustaz Nur Asyur.
 
Untuk kesiapan pemikiran bisa meliputi beberapa hal. Yakni kesiapan visi keislaman, kesiapan visi kepribadian, dan kesiapan visi pekerjaan. Pemahaman keislaman kepada keluarga dalam memilih pasangan hidup harus bisa disamakan persepsinya. “Komunikasikan calon pendamping hidup kepada keluarga, sehingga orangtua bisa yakin akan pilihan hidup berkeluarga anak mereka,” tuturnya. (Tulisan ini dikirim oleh Herdian Armandhani, Denpasar)