Jodoh untuk Bisrun (Bagian II)
- http://www.morzing.com
Banyak teman dan tetangga yang menasihatinya bahwa dalam hal mencari jodoh tak usah tebang pilih. Tapi kawan, jodoh memang harus melalui ujian pilih-memilih.
Sebab, jodoh itu akan menjadi pendamping hidup selama-lamanya, sehidup semati. Memang, jodoh telah ditentukan oleh Allah, tapi kita juga toh yang memilih. Itulah gunanya shalat yang kau sebut dengan istikharah. Kau memilih namanya untuk kemudian kau meminta persetujuan Allah dalam komunikasimu denganNya dalam do’a-do’a khusyukmu entah pada waktu malam atau dini hari itu.
Bukan Bisrun tipikal pemilih hingga kini jodohnya dirasa sangat jauh, melainkan ia lebih hati-hati dalam memilih pendamping hidup. Telat memang, semestinya ia sudah memiliki dua atau tiga anak jika sejak perkenalannya beberapa tahun lalu dengan Yasmin Aisyah disetujui oleh Bapak dan Ibunya.
Yasmin adalah akhwat asal kota, mereka berkenalan melalui facebook. Cantik memang, malah terbilang sempurna untuk dijadikan pendamping hidup. Pertemuan pertama Bisrun dengannya membuahkan rasa suka dan takut kehilangan, namun ketika Bisrun hendak melamar akhwat cantik itu, terlalu banyak aral yang menghalangi baik dari kalangan orangtua Yasmin dan orangtua Bisrun sendiri.
Rupanya, pertemuan melalui media sosial tak diyakini oleh kedua belah pihak. Dan perpisahan pun menjadi jalan keluar utama bagi Bisrun dan Yasmin.
Dan sejak saat itu, Bisrun tak mau lagi diperkenalkan oleh siapa pun dan melalui media apa pun. Ia berjanji pada nuraninya sendiri bahwa pasti akan bertemu dengan jodoh yang tepat sesuai kehendakNya.
Tapi semua mengalir seperti biasanya. Bisrun mengajar, bermain dengan anak-anak dan mencoba melupakan tentang kisah cintanya. Ia asyik dengan kesendiriannya. Mengasuh dan mengajarkan ilmu kepada anak-anak sahabatnya sendiri. Ya, Pak Guru Bisrun yang jomblonya kadaluarsa. Bersambung... (Cerita ini dikirim oleh Rifyal Qurban, Serang-Banten)