Menilik Paniis, Kampung Wisata nan Asri di Ujung Kulon
- U-Report
Jika sebelumnya masih menggunakan baju biasa, kini para penari sengaja membuat baju untuk kostum saat menari. Para penari Rengkong pun menggunakan baju hitam, kain di kepala, dan kain yang diikatkan di pinggang, bak seorang pendekar.
Di sela-sela para laki-laki menarikan tari rengkong, terdapat sekitar 10 penari dan 2 penyanyi yang umurnya tidak muda lagi. Mereka adalah ibu-ibu tua yang masih semangat berbaris memainkan tarian Lesung. Tarian ini menggunakan alat penumbuk padi yang dinamakan alu.
Sembari memukul-mukul lesung (tempat menumbuk padi) secara bersama-sama. Ibu-ibu tua ini memainkan tarian dengan harmonisasi yang cukup indah. Tak heran, perpaduan antara dua tarian ini bisa menghasilkan harmonisasi yang begitu indah dan enak didengar.
Saat sedang asyik melihat pertunjukkan tersebut, tiba-tiba saya pun ditarik dan diajak maju ke depan untuk ikut menari oleh ibu tua yang sedang bernyanyi sambil menarikan Tari Lesung. Sambil menari dan bernyanyi, ibu tua itu pun meminta saya untuk menari dan menyawer dirinya. Hehe, sungguh lucu dan senang dibuatnya saya.
Tak hanya menyanyi, saya pun dibuat penasaran untuk memainkan alat tarian lesung. Dan langsung saja, saya dan Nika (Tim WWF) pun mencoba alat penumbuk padi tersebut. Baru beberapa menit saja mencoba, rasanya saya sudah dibuat lelah oleh alat penumpuk padi ini. Berbeda dengan saya, ibu-ibu tua ini justru masih tersenyum dan bersemangat menarikan dan menumbuk alat padi ini.
Tidak bisa dibayangkan, energi mereka masih saja kuat meskipun sudah tua. Saya merasa malu, kenapa yang muda justru cepat merasakan lelah hehe.. Setelah pertunjukan selesai, kami pun kembali ke saung. Di saung, kami pun kembali diberikan hiburan oleh warga setempat. Sambil menonton hiburan tersebut, tak lupa kami pun diberi sebatang jagung bakar.
Di tengah malam dengan udara yang sepoy-sepoy, jagung bakar hangat beserta teh manis panas menjadi teman di malam itu. Rasanya tak ingin melupakan begitu saja pengalaman yang saya dapatkan di Kampung Paniis. Begitu banyak pengalaman dan cerita baru yang saya dapatkan di kampung ini. Ramah, baik, dan sopan itulah warga Kampung Paniis yang menyambut saya beserta rombongan dengan baik.
Tak terasa, waktu pun berputar begitu cepat. Baru saja tiba di kampung ini, dan kami pun harus pergi meninggalkannya kembali. Lantaran, kami harus pergi melakukan kegiatan baru di Pulau Badul. Sampai jumpa warga Paniis, terimakasih untuk cerita dan pengalaman barunya. (Cerita ini dikirim oleh Dian Lestari – Jakarta)