Air Mancur Taman Sri Baduga Purwakarta dan Semangat Budaya
Kang Dedi Mulyadi punya pandangan nasional dengan mengungkapkan bahwa keberadaan dirinya sebagai bupati serius dalam membela identitas budaya nasionalnya. Karena dirinya berada dalam masyarakat Purwakarta, maka ia bergerak di atas kebudayaan daerahnya, kesundaan. Kang Dedi Mulyadi sekalipun mengusung kesundaan bukan berarti ia menganut sundaisme dan berpandangan sempit sunda sebagai sebuah kemutlakan.
Jauh dari pikiran sempit itu, Kang Dedi Mulyadi berpikiran universal bahwa kebudayaan juga hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan, yakni mengangkat derajat hidup manusia atau memanusiakan manusia. Tidak sepantasnya manusia menjadi budak, apalagi di negerinya sendiri. Karena itu etos dan etik (kebudayaan) selalu digarap serius supaya perilaku hidup rakyat terarah, meningkat terus dan mencapai derajat yang jauh dari kehinaan seperti menjadi pengemis, pencuri, dan lain sebagainya.
Malam itu, Kang Dedi Mulyadi juga cerita kalau esok hari dirinya akan mendapatkan penghargaan dalam bidang kebudayaan pada Hari Pers Nasional 2016 di Nusa Tenggara Barat. Katanya, di antara sekian bupati seperti Bupati Wakatobi Hugua, Walikota Sawah Lunto Ali Yusuf, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, Bupati Belu Wilhelmus Foni, Bupati Tegal Enthus Susmono, dan Walikota Tomohon; Jimmy F Eman, dirinya menjadi bagian yang akan mendapatkannya.
Taman Sri Baduga, banyak orang hadir di sana. Seseorang bilang kalau pada empat minggu sebelumnya banyak orang Purwakarta yang hadir. Sekarang sudah mulai banyak didominasi orang luar. Plat B, D, E, F, dan lain sebagainya mewarnai parkiran di pinggir-pinggir jalan Taman Sri Baduga. Orang-orang luar kota banyak berdatangan ke Purwakarta karena air mancur ini begitu fenomenal dan menjadi liburan alternatif di luar Bogor atau Bandung. (Cerita ini dikirim oleh Ferlitahus)