Wartawan dalam Kode Etik
- Fajar Sodiq (VIVAnews)
VIVA.co.id – Sebagai bentuk kesadaran profesionalitas yang dijaga, wartawan pastinya memerlukan pedoman-pedoman dalam menjalankan tugasnya sebagai kaum intelektual yang berprinsip. Oleh karena itu, peran pers di dalam usianya yang ke 71 tahun ini, perlu adanya perubahan-perubahan, seperti yang dicanangkan dalam program Nawacita Presiden RI ke-7, yakni revolusi mental.
Kekuatan pers dalam mendukung revolusi mental begitu sangat signifikan untuk diterapkan. Perubahan moral harus segera dijalankan sedini mungkin, guna menuju Indonesia jaya. Di dalam perannya yang dapat mengubah dan memengaruhi, pers diharapkan tidak menjadikan karyanya sebagai kekuatan politik yang mengubah paradigma bangsa ke dalam rundung ketakutan.
Ketika menelisik sejenak ke dalam sejarah, surat kabar mingguan nasional pertama yang bernama “Medan Prijaji” dengan bahasa melayu, yang terbit kali pertama di Bandung pada Januari tahun 1907 hingga 1912, pers lahir dengan kekuatan untuk kemerdekaan rakyat. Dengan rubrik tetapnya adalah mutasi pegawai, salinan lembaran negara dan pasal-pasal hukum, cerita bersambung, iklan, dan surat-surat. Setiap pemberitaan yang disajikan dalam koran ini selalu menjadi kutukan bagi pemerintah kolonial, dengan kritikan pedas dan alamat pengaduan bagi pribumi yang mendapat perlakuan tidak adil oleh kekuasaan kolonial Belanda.
Dalam keredaksiannya, Medan Prijaji didirikan oleh pribumi asli, yakni Tirto Adhi Soerjo. Medan Prijaji menjadi koran pertama yang dikelola pribumi dengan uang dan perusahaan sendiri. Sebelum menerbitkan "Medan Prijaji", pada Januari 1904, Tirto Adhi Soerjo bersama H.M. Arsad dan Oesman mendirikan badan hukum N.V. Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften terlebih dahulu. Medan Prijaji beralamat di Djalan Naripan, Bandung, yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK). N.V. ini dicatat sebagai N.V. pribumi pertama dan sekaligus NV pers pertama dengan modal sebesar f 75.000 yang terdiri atas 3.000 lembar saham.
Medan Prijaji memiliki delapan asas yang diturunkan Tirto Adhi Surjo di halaman muka pada edisi perdana, untuk memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum, tempat orang tersia-sia mengadukan halnya, mencari pekerjaan, menggerakkan bangsanya untuk berorganisasi dan mengorganisasikan diri, membangunkan dan memajukan bangsanya, serta memperkuat bangsanya dengan usaha perdagangan.