Seberapa Efektifkah Kebijakan Kantong Plastik Berbayar?
- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Saya mulai bertanya, "Mbak, ini plastiknya sudah mulai berbayar?". Si Mbak hanya menjawab singkat, "Iya, bu." Saya geleng-geleng kepala. Barang yang saya beli sangat kecil, dapat saya genggam, apalagi saat itu tas saya masih cukup besar untuk memasukkannya, bahkan tiga jenis sabun pun masih muat. Kenapa si mbak dengan gampangnya memberikan kantong plastik itu kepada saya?
"Mbak, sabunnya saya masukkan ke dalam tas saja tidak usah pakai kantong plastik," ujar saya. "Oh, iya bu," jawab si Mbak dengan ketus, sambil cemberut mengoreksi mesin registernya. Mungkin dalam benaknya berpikir kalau pelit banget si Ibu ini, Rp200 saja tidak mau bayar.
Sebenarnya masalah bukan terletak di Rp200-nya. Tapi sepertinya tujuan dari gerakan ini dilakukan sudah berbeda. Dari sikap si pramuniaga jelas-jelas terlihat tidak ada upaya menyukseskan kebijakan ini. Yang mereka tahu kalau sekarang setiap pembeli harus dikenakan biaya tambahan untuk kantong plastik. Harusnya jika memang toko-toko ritel ini serius ingin menyukseskan gerakan ini, mereka harus menegaskan kepada para pramuniaganya untuk memperketat penggunaan kantong plastik.
Sebagai baris terdepan, pramuniaga harusnya mengingatkan kepada para pembelinya sebelum memberikan kantong plastik kepada mereka. Misalnya dengan menanyakan terlebih dahulu apakah mereka membawa kantong sendiri, atau apa mereka mau memasukkan barang belanjanya ke dalam tas mereka sebelum memutuskan untuk memberikan kantong plastik. Dengan begitu mungkin kebijakan ini akan lebih efektif.
Kalau ini malah sebaliknya. Kita tidak mau pakai kantong plastik malah dipandang nyinyir, dicemberutin, dan sudah pasti dianggap pelit sama si Mbak pramuniaga. Giliran kita bawa kantong sendiri, ehh malah dibilang tidak mau rugi. Padahal maksudnya ingin menyukseskan gerakan ini. Semoga hanya beberapa pramuniaga saja yang bersikap begitu.
Saran saya, harusnya kerjasama dengan toko-toko ritel ini harus lebih ditekankan tujuan awalnya apa. Gerakan ini dilakukan bukan untuk menambah pemasukan dari uang hasil kantong plastik, tapi untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Walaupun dikatakan uang tersebut digunakan untuk edukasi lingkungan, tapi tetap tujuan utama yaitu untuk mengurangi limbah plastik harus lebih ditekankan. Harus ada edukasi yang jelas terutama kepada pihak yang langsung berhubungan dengan pengguna atau customer, jadi pencapaiannya juga maksimal.