Dua Wajah Polisi
- ANTARA FOTO/Reno Esnir
Sekarang, mari kita sedikit bermain-main dengan karikatur. Andai saja ada warga yang memergoki dan punya keberanian mengatakan kepada polisi culas tadi di TKP bahwa yang dilakukannya adalah pelanggaran serius, polisi itu mungkin mengalami kekalutan yang kurang lebih sama jenakanya seperti bocah tadi.
Misalnya (karena kita cukup punya pengertian bahwa polisi itu mungkin sedang kepepet) kita bisa katakan bahwa yang akan kita lakukan cuma mau mengantar dia ke Kapolri dan menceritakan tentang apa yang baru saja terjadi dengan “anak”-nya ini.
Polisi adalah salah satu institusi yang dalam berbagai survei tergolong paling rendah mendapatkan kepercayaan setelah DPR. Mungkin karena sifat persinggungannya yang langsung dengan publik, selain soal moral individual dan struktural tentu saja. Sering kita dengar bahwa perangai polisi yang tidak disiplin karena Pemerintah (Mabes) belum mampu memberikan gaji dan biaya operasional polisi yang layak. Sebagian mungkin alasan itu terkesan dibuat-buat, tetapi sebagian memang benar juga.
Pernah seorang polisi “curhat” bahwa ia hanya dapat jatah bensin sekian liter saja untuk seminggu, yang dalam praktik habis dalam 4 hari. “Kalau pada hari ke 5 ada maling yang harus saya kejar, ya terpaksa saya nombok” ujar polisi tersebut. Jadi ada persoalan ekonomi di sana. Tetapi pernahkah juga polisi berpikir bahwa uang yang dipungut secara liar dari warga jangan-jangan itu juga uang terakhir yang akan dia serahkan untuk anak dan isterinya hari itu?
Untuk Polri rasanya perlu dicari jalan keluar yang lebih struktural yang efek kebaikannya lebih masif. Misalnya, mungkinkah polisi menjadi aparat Pemda? Bukankah Pemda yang punya biaya dan wilayah dengan segala masalah ketertiban dan keamanannya. Tetapi kata polisi itu tidak mungkin karena kita bukan negara federal. Wah, saya jadi ingat guyonan populer Gus Dur. Katanya, ada dua jenis polisi yang terbukti jujur dan bersih. Pertama, Hoegeng (mantan Kapolri, alm), dan kedua, “polisi tidur”! (Tulisan ini dikirim oleh Tafta Zani, Tangerang, Banten)