Pengais Tuhan

Ilustrasi pengais sampah.
Sumber :
  • ANTARA/Aditya Pradana Putra

VIVA.co.id –  Aku cemas dengan wajah kotaku yang lusuh dan layu. Aku malu dengan wajah kotaku yang muram, tak bergairah, tak punya hasrat hidup; bahkan untuk hidup satu hari saja. Aku gundah dengan wajah kotaku yang bau amis di mana-mana.

img_title Pengunduran Diri Ditolak, Presiden Paraguay Dimakzulkan dan Ditahan Usai Kolapsnya Bank Ueno

Dan aku lebih muak lagi dengan tingkah kotaku yang selalu melumuri tubuhnya dengan darah; ya darah anak tanahnya sendiri. Hancur sudah kotaku yang dulu jaya dan bersahaja. Apa sebab kotaku jadi begini? Mungkinkah Tuhan sudah meninggalkan kotaku? Mungkin Tuhan sudah berpaling dan tak mungkin menampakkan batang hidung-Nya lagi di kotaku? Ataukah Tuhan ingin menghukum kotaku, memusnahkannya, seperti kota kuno Sodom dan Gomora?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Aku tak tahu lagi. Yang aku tahu, kalaupun Tuhan ada, maka darimana datangnya semua kejahatan ini? Sebab dulu, orang-orang kotaku dengan bangga berseru, “kalau Tuhan tidak ada, darimana datangnya semua kebaikan?”

img_title Persija Buka Suara soal Laporan APPI, Bantah Tunggak Gaji Pemain

Tetapi sekarang kebaikan itu sirna ditelan keangkuhan, ambisi, dendam, dan amarah. Bahkan bila kebaikan itu hanya sekadar konsep, tak ditemukan lagi konsep itu di kotaku lagi.

Di ujung jalan, persisnya di depan gedung apotek, ada pertigaan yang semuanya mengarah ke pusat kota. Dahulu kawasan itu padat. Sekarang, ada seorang bocah dengan wajah pucat, bibir kering, dan tubuh kurus kering, sedang mengais sampah sambil sesekali memasukkan apa saja yang bisa dia masukkan ke dalam mulutnya yang kering.

img_title Daftar HP Rp2 Jutaan yang Meluncur November 2026, Ada yang Menawarkan Fitur Menarik

Setiap orang yang melintas harusnya langsung sadar; “bocah itu lapar.” Namun, entah kenapa tak ada yang membantunya. Hingga malam merayapi kota, bocah itu belum jua beranjak dari tempat itu. Ia seperti tak kenal waktu lagi, tak kenal hukum alam. Oleh karena lapar yang menyengat sangat, ia sudah tak sanggup menyadari kalau yang menemaninya mengais sampah setiap hari hanya matahari dan bulan.

Sebuah mobil tua, Kijang keluaran tahun 90-an, pelan-pelan memperlambat lajunya saat melintas di depan gedung apotek itu. Mobil itu berhenti di dekat sang bocah yang tak peduli. Seorang pria separuh baya turun dari mobil. Dengan jas hitam panjang menutupi sampai mata kaki dan setelan celana jins pudar berpadu dengan kaos bergambar Soekarno, pria itu tampak cukup elegan. Beberapa menit ia memandangi bocah pengais itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut