Angels and Demons

Angels & Demons
Sumber :

Setelah kejadian itu, jujur saya jadi segan buat ikutan main bola lagi sama mereka. Saya beranggapan suasananya sudah tidak kondusif kalau ada saya. Dan saya juga menyesal karena sempat menghardik Pak Sony. Tapi, entah karena saya memang jodoh atau ini takdir baru-baru ini saya ketemu dia lagi di tempat yang sangat tidak terduga.

img_title Desa Bukan Hanya Sekadar Desa

Ceritanya, teman-teman komunitas UMN yang beragama Nasrani sering mengadakan persekutuan doa. Mereka berencana buat mengadakan acara "Praise and Worship". Walaupun saya tidak terlalu aktif dan jarang datang, saya diwajibkan datang sama teman-teman saya. Kebetulan jam dan tanggalnya klops sama waktu saya, jadi saya pastikan kalau bakalan datang ke acara tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Setelah selesai acara puji-pujian ke Tuhan, sekarang waktunya buat mendengarkan khotbah dari pendeta. Ketika pendeta dipanggil ke depan mimbar, saya sempat perhatikan muka beliau. Seperti kenal, tapi tidak ingat betul itu siapa. Saya lihat di kertas undangan dan tertulis "Pembicara: Pdt Sony". Eeaaahh, saya langsung panik. Ingatan saya langsung flashback ketika saya dan dia sempat sedikit clash.

img_title Aku Akan Tampar Mereka dengan Kesuksesanku

Saat di depan mimbar, mata saya dan dia juga sempat beradu pandang. Dan saya sangat yakin dari sorot matanya kalau dia juga masih ingat sama saya. Saya tengok ke belakang, mau keluar, tapi pintu sudah ditutup. Saya duduk di kursi yang bener-bener pas. Iya pas banget buat dia ngeliatin saya. Akhirnya saya mencoba untuk menenangkan diri. Saya pakai cara saya waktu SMA, yaitu di setiap pelajaran yang saya takuti (matematika, fisika, kimia) saya bakalan duduk manis, mata menerawang ke bawah, sambil sok sibuk coret-coret kayak lagi ngitung padahal aslinya saya lagi gambar Doraemon.

Nah, cara itu pun yang saya pakai sekarang. Selama Pak Sony bawakan firman Tuhan, saya pura-pura dengerin sambil mata saya tetap menunduk membaca Alkitab. Tangan saya pura-pura sibuk mencatat apa yang beliau omongin walaupun aslinya saya lagi gambar-gambar Naruto. Selama 15 menit cara saya ini berhasil, tapi mungkin karena Pak Sony merasa ada yang enggak beres sama saya, di tengah khotbah dia berbicara, "Stefanus kok dari tadi menunduk terus? Ayo sini ke depan bantu saya di depan, saya mau buat sedikit ilustrasi." Sempurna! Teman-teman saya yang lain pada bengong dan kaget, karena bagaimana bisa pendeta itu tahu nama saya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Buka Bersama Eratkan Silaturahmi Anggota DN Malut Makassar
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut