Paradigma Jones
- U-Report
SMP, lumayan berkesan. Namun orang-orangnya tersebar entah kemana, termasuk sahabatku yang selalu mau ku ajak ke warnet, ke pasar, sampai membentuk klub bola, juga hilang kabar beritanya. Cukup banyak cerita di masa itu. Andai kuceritakan, bakal jadi novel ini cerita.
SMA, sedang kujalani namun tak tahu apa langkah pasti yang harus kuambil ke depannya. Bimbang? iya. Bingung? pasti. Sikap dan polahku saat ini sangat dipengaruhi oleh yang namanya waktu. Seiring berjalannya waktu, entah kenapa arti kehidupan yang kurasakan saat ini berbeda 180 derajat dengan kehidupanku sebelumnya. Cara pandangku terhadap orang lain dan diri sendiri seolah menjadi titik berat perubahan pandanganku saat ini.
Pola pikir yang kurasakan seperti tertahan hanya di sebagian otak kecilku, tak lebih dari itu. Bicara teman, memang sedikit namun menurutku cukup bermanfaat untuk saat ini. Dari semuanya, ada seseorang yang punya komentar pedas dan menusuk. Tapi dari semua komentarnya hanya kuanggap sebagai angin lalu serta sebagai bahan pelajaranku.
Sedikit kisah unik nan aneh sudah kurasakan di masa ini. Masalahnya sepele, hanya salah persepsi dan menjadi sensasi. Di titik ini aku akhirnya sadar bahwa kedamaian yang sebenarnya bukanlah seseorang yang tidak memiliki permasalahan, tetapi suatu pandangan bahwa damai itu selalu hadir bagi orang-orang yang menginginkannya.
Si A tidak menginginkan si B, sedang C,D,E,F selalu mengaitkan hal yang sama berulang-ulang. Lalu datang si G tanpa tahu pasti apa yang sebenarnya A rasakan dan melancarkan hal yang bodoh kepada si B. Si A yang sebenarnya tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi bahkan tertarik pun tidak sama sekali, seolah terkena imbas yang dilancarkan oleh si G. Dengan mengatasnamakan si A, si G tak peduli apa yang dirasakan orang lain.
Hal konyol memang selalu menarik, namun alangkah lebih menarik jika kekonyolan itu berdasar dan setidaknya tahu akar kekonyolannya. Simbol tergambar berdasar apa yang dipikirkan dan ditafsirkan dari persepsi yang spontan. Menurut pandanganku, segala arti dan segala maksud dari apa yang selama ini kurasakan terbangun karena adanya hal yang disebut kepribadian.