Maluku Gigit Jari
- VIVA.co.id/Angkotasan
Siswa terkadang bingung dengan pilihan masa depan, bingung dengan orientasi pendidikan yang mau ditempuh pada perguruan tinggi. Bahkan siswa terperangkap oleh tingkat ekspektasi yang lebih mendominasi dan akhirnya plin-plan, dan sebagainya. Sehingga lahirlah yang namanya 5D, datang, duduk, diam, dengar dan daaaaaaahh.
Ini hal yang lucu. Tak ada satupun ilmu pengetahuan yang didapatnya melalui perguruan tinggi. Dengan demikian maka bidang yang ditempuhnya itu hanya menjadi formalitas yang barangkali dia sendiri pun tidak tahu apa definisi dari bidang yang ditempuhnya itu. Akhirnya apa, politisi adalah satu-satunya profesi yang sesuai dengan kemampuannya.
Kita tahu bahwa politisi adalah wadah berkumpulnya para manusia-manusia bodoh yang berkompetisi secara bebas ( free competition ) untuk memperebutkan uang kembaliannya para pejabat. Nah, Maluku kini kekurangan para ekonom-ekonom handal, para ahli hukum handal, para ahli di bidang pertanian, kehutanan, kelautan, perikanan, biologi, fisika, guru, dan lain-lain. Maluku kekurangan marketing handal, distributor handal, dan lain-lain. Kalau diurutkan satu persatu barangkali halaman website ini tak cukup.
Gubernur hampir setiap tahun mengirim para penerima beasiswa ke luar negeri untuk melakukan studi di sana, namun bukan berarti bahwa itu menjadi cara strategis untuk memajukan Maluku. Maluku yang sudah menjadikan bodoh sebagai budaya sulit untuk mengangkat setidaknya satu persen ke arah kemajuan. Misalnya dari aspek pembangunan.
Pembangunan kini kian marak terjadi di Maluku, mulai dari gedung-gedung mewah, jalan raya, jembatan dan lain-lain. Namun, itu hanya sekadar pertumbuhan saja tanpa ada perkembangan. Pembangunan hendaknya diikuti dua aspek yakni pertumbuhan dan perkembangan. Tanpa salah satunya maka itu hanya sia-sia.
Dari aspek ekonomi, Maluku yang kaya akan SDA namun minim SDM ini akan menjadikan Maluku sebagai satu provinsi yang miskin dari aspek ekonomi. Maluku mengharapkan SDM yang inovatif yang mampu berkreasi secara unkretable ataupun terobosan dalam mengeksploitasikan semua potensi alam yang ada di Maluku. Namun, tendensi kapabilitas human resources knowledge di bawah rata-rata maka pembangunan ekonomi secara berkelanjutan sulit untuk dicapai. (Tulisan ini dikirim oleh Romi Atamimi, mahasiswa pasca sarjana UMI)