Aku Ditembak!
- U-Report
Aku memalingkan wajah, lalu memutar badan, dan dengan kecepatan cahaya aku tidak lari, aku tetap berjalan, namun dengan kecepatan yang tidak biasa. Ternyata dia mengikutiku dari belakang. Aku semakin mempercepat langkahku dan dia juga ikut mengeluarkan jurus seribu langkahnya.
“Hey, kamu, berhenti!” perintah dia. Aku pura-pura tidak mendengar, tapi dia malah semakin antusias untuk menghentikanku. “Hey, kamu, stoopp!!!!” dia berteriak sambil menarik tanganku untuk menghentikan langkahku. Aku berhenti, aku menoleh, jantungku semakin mau copot.
“Kamu orang yang sering mention-mention aku setiap pagi itu kan, yang sering ngikutin aku ke mana saja, yang sering stalking twitterku, iya kan?” Dia mulai membuka mulut dan menebak semuanya. Gila aja, ini orang kok bisa tahu semuanya. Itu berarti selama ini dia pura-pura nggak peduli bahwa aku memperhatikannya. Dia baca semua mention-mention anehku. Oh tidaakkk! Seketika itu juga aku ingin lompat dari ujung Monas dan tembus ke lapisan bumi paling bawah.
Tanpa berkata apapun aku pergi begitu saja. Aku masih belum sadar sepenuhnya, aku masih mencerna dengan apa yang dia ucapkan tadi. Ternyata dia mengikutiku lagi. Aku cuek saja, aku tidak mau mengucapkan sepatah kata pun.
Saat itu kebetulan ada orang lewat berjualan topi pantai. Dia ambil satu topi itu, dan mengenakannya di kepalaku dari belakang. “Pakailah ini biar nggak kepanasan.” ucapnya tepat di belakang punggungku. Aku menoleh, dia tersenyum. Aku tetap terdiam, namun batinku memberontak. Ohmaigat, apa ini? Kenapa tiba-tiba dia begini? Jantungku semakin ingin terbang bebas dan bahkan pankreasku rasanya ingin loncat juga.
Kita berdiri dengan posisi seperti ini selama beberapa menit, di bawah pohon kelapa di pinggir pantai. Aku memandangi wajahnya, namun tetap tidak terlihat jelas, gelap. Entah apa yang dia bicarakan, otakku sibuk memikirkan dia dan tiba-tiba semua inderaku seperti mati sejenak.
Aku terbangun dari lamunan panjangku yang sedari tadi ternyata terus menatap wajahnya yang samar. Dia mulai mengeluarkan gombalan-gombalan mautnya yang bikin semua orang klepek-klepek, bahkan cowok pun bisa menganga mendengarnya. Aku mulai senyum-senyum sendiri. “Sebenarnya selama ini aku juga suka sama kamu, mau nggak kamu jadi pacarku?” ucap dia langsung menatap ke mataku.