I Love You, Ayah
- U-Report
Aku tak mengerti semua kata yang ayahku ucapkan kala itu. Aku hanya mampu menarik kesimpulan sedikit dari semua kata sampah yang keluar dari mulutnya. "Ayah juga menderita di rantau, ayah juga kelaparan di sana, ayah tak mampu menyenangkanku seperti anak seusiaku pada umumnya, ayah mohon pengertianku, dan bla...bla...bla...." Air mata turun begitu saja. Aku hanya tahu ayah pun terluka. Tapi entah apakah ini rasa sedih karena ayahku mengalami banyak kesulitan atau ini rasa benci karena ayahku tak mampu menjadi ayah yang sebagaimana mestinya.
Luka itu tak kunjung sembuh bahkan membekas hingga kini. Sampai rasa bingung ini ada, aku masih tak mampu menjelaskan perasaanku kala itu. Sejak hari itu ibu tak pernah berhenti menceritakan kesedihannya padaku. Rasa kecewa pada ayah menjadi hal berulang yang ibu ceritakan padaku. Aku semakin membenci ayah. Iya, ayahku sendiri. Tapi tak jarang juga aku mengasihaninya.
Namun, rasa kecewaku sudah terlampau besar. Sejak hari itu, aku tak mampu menjelaskan bagaimana perasaanku untuk ayah. Ada kalanya aku sangat menyayanginya dan ingin anakku kelak memiliki ayah seperti ayahku. Ayah, seberapa besar deritamu, kau tak pernah mau membaginya denganku. Tak seperti ibu, dia selalu banyak bercerita denganku. Ayah, mengapa tak kau ceritakan pedihmu agar aku tahu. Setidaknya biarkan aku memiliki alasan agar tidak terlalu membencimu karena rasa kecewa yang kau torehkan di saat aku masih terlalu muda untuk benar-benar mengerti keadaanmu.
Ayah, apakah kau sadar kalau kau telah melukai kami, anak-anakmu? Kau membuat kami tak mampu percaya lagi padamu. Membuat kami selalu ingin menjauhimu perlahan. Ayah, pernahkah kau bertanya pada kami, bagaimana perasaan kami ketika kau kecewakan kami? Tak ada kata maaf yang terucap darimu Ayah. Tak sekalipun, atas semua rasa kecewa yang, aku tak tahu, sadar atau tidak kau goreskan pada kami. Tanpa ada penjelasan yang membuat kami mengerti keadaanmu.
Dengan sekuat tenaga, dengan air mata, kami berusaha mengerti keadaanmu ayah, ya dengan cara kami. Tak pernah mau kau terlihat lemah di depan kami. Terima kasih untuk selalu berusaha kuat di depan kami. Tapi ayah, itu membuatmu terlihat tidak hidup. Mengapa tak kau katakan saja kau pun punya kelemahan agar kami sadar kau pun manusia seperti kami. Kau bukan manusia super yang tak rapuh. Itu tidak akan menghilangkan kuasamu sebagai seorang pemimpin di kapal mungil ini.