Surat Ketujuh untuk Mutiara Hidupku
Sampaikan padanya semua kabar baik dariku An, aku sangat merindukannya. Aku janji, sebelum buku itu diluncurkan, aku akan terlebih dahulu menulis surat kedelapan untuk kalian dan akan kusertakan pula buku itu. Aku ingin kalianlah yang menjadi pembaca pertama buku pertamaku. Kamu bersediakan, sayang? Bukan cuma itu, aku masih punya kabar baik lagi. Narkoba dan alkohol yang selama ini menyanderaku, telah berhasil aku tinggalkan. Kini aku merasa telah menjadi manusia yang normal, sayang. Seperti yang kamu dan keluargaku inginkan.
Hmmmm, kuberitahu kamu satu hal lagi ya, semoga kamu tambah senang mendengarnya. Kini aku sudah menjadi seorang jurnalis sebuah media cetak di kota ini. Cita-citaku telah berhasil kurengkuh, An. Aku benar-benar senang. Di kantor, aku mendapatkan tugas tambahan. Sepekan sekali, aku harus menyeleksi surat cinta yang masuk untuk ditayangkan di rubrik Surat Minggu. Ketika memilih-milih surat itulah, ingatanku tentangmu semakin kuat. Surat-surat itu membuat kerinduanku semakin menggelora. Itulah yang juga kemudian membuat gairah hidupku semakin membaik.
Aku kian bersemangat untuk menyelesaikan tugas-tugasku di dunia ini. Sehingga jika waktu itu telah tiba, tiada lagi beban yang harus kutanggung. Dan aku dapat segera menemui kalian di alam sana dengan langkah yang ringan, dengan wujud dan hati yang sempurna. Sebab aku percaya, hanya orang-orang yang telah sempurnalah yang akan diangkat oleh Tuhan. Sebagaimana kalian, dua mutiaraku yang terlebih dahulu menjadi sempurna.
Dan setelah itu sayang, kita dapat melanjutkan kisah cinta keluarga kita yang tertunda. Nantikan aku di sana ya, An. Nantikan ayah datang ya, nak. Salam dari laki-laki yang selalu mencintai kalian, Darul Azis. (Cerita ini dikirim oleh Darul Azis, Yogyakarta)